Chikungunya Mulai Serang Warga

nyamuk1qi9

KAUR SELATAN, BE – Hujan deras yang terus menguyur wilayah Kabupaten Kaur beberapa pekan terakhir ini membuat penyakit Chikungunya, mulai mewabah di Kabupaten Kaur khususnya di wilayah Kaur Selatan. Sebab beberapa warga Kaur Selatan saat ini mulai terserang penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

“Saya kemarin itu kena penyakit chikungunya ini, tapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai sembuh,” ujar Rozi (31), warga Gedung Sako Kecamatan Kaur Selatan, kemarin (10/11).

Menurut penuturan Rozi, gejala penyakit itu ia rasakan sejak beberapa hari lalu, diawali dengan demam pada sekujur tubuh. Juga seluruh persendian tulangnya juga terasa ngilu dan sukar untuk digerakkan. Bahkan ia nyaris tak bisa menggerakkan badan selama sehari.

“Waktu saya terkena chikungunya saya dirawat di Puskesmas, biasanya penyakit ini menyebar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaur membenarkan jika musim hujan ini penyakit chikungunya mulai menyerang warga. Penyakit ini biasanya menyerang warga saat musim pancaroba atau peralihan musim, di mana nyamuk tengah berkembang biak, apalagi banyak genangan air di sekitar permukiman warga yang dijadikan sarang oleh nyamuk.

“Penyakit chikungunya disebabkan oleh virus. Penyakit ini tidak mematikan, tetapi penderita akan merasakan gejala ngilu pada seluruh persendian tulang yang sebelumnya diawali demam,” ujarnya.

Ditambahkannya, dengan mebawabahnya penyakit ini, ia meminta kepada warga yang terserang chikungunya segera berobat ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Juga untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya sudah mengagendakan upaya penyemprotan untuk pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu, juga dilakukan abatisasi atau penyemprotan serbuk abate di setiap penampungan air milik warga.

“Kalau ada warga terserang penyakit ini segera bawa ke dokter, dan juga kita minta kepada warga agar meningkatkan kebersihan. Salah satunya dengan menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala,” imbaunya. (618)