Cara ini Bisa Mencegah Depresi Setelah Melahirkan

Bengkulujpnn.com – Aktivitas fisik selama dan setelah kehamilan bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis dan melindungi terhadap depresi pascamelahirkan.

Bahkan latihan atau olahraga dengan intensitas rendah, seperti berjalan dengan kereta dorong bayi telah dikaitkan dengan kemungkinan gejala depresi yang lebih rendah pada ibu baru.

“Konsekuensi negatif dari depresi pasca-melahirkan tidak hanya memengaruhi ibu tapi juga anak mereka yang bisa menderita perkembangan emosional dan kognitif yang buruk,” kata rekan penulis studi, Celia Alvarez-Bueno, seperti dilansir laman Lifescript, Minggu (30/7).

Depresi pasca-melahirkan, suatu komplikasi paling umum yang terjadi pada ibu baru setelah melahirkan bayi mereka memengaruhi 1 dari 9 wanita, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S.

Gejalanya bisa meliputi serangan kegelisahan, ketidakamanan, mudah tersinggung, kelelahan, rasa bersalah, takut melukai bayi dan enggan menyusui.

Gejala ini bisa dimulai dalam waktu empat minggu setelah melahirkan dan dianggap berat jika mereka bertahan lebih dari dua minggu, tim peneliti menulis dalam jurnal Birth.

“Itulah mengapa penting untuk menguji strategi yang paling efektif untuk mencegah gangguan ini atau mengurangi konsekuensinya,” jelas Alvarez-Bueno.

Tim peneliti menganalisis data dari 12 percobaan terkontrol mengenai intervensi olahraga selama dan setelah kehamilan antara 1990 dan 2016 yang membahas efek aktivitas fisik pada depresi pasca-melahirkan.

Penelitian tersebut melibatkan sebanyak 932 wanita dan meneliti tingkat keparahan depresi pascamelahirkan dan juga memasukkan informasi dasar tentang frekuensi, jenis dan intensitas latihan.

Latihan yang digunakan dalam berbagai penelitian termasuk peregangan dan pernapasan, program berjalan, aktivitas aerobik, pilates dan yoga.

Ibu baru yang sering berolahraga memiliki skor rendah pada tes gejala depresi selama periode postpartum.

Manfaat nyata dari gejala depresi yang lebih sedikit terlihat bahkan di antara wanita yang tidak memenuhi batas untuk diagnosis depresi.

“Kami memperkirakan bahwa aktivitas fisik bisa mengurangi gejala depresi pasca-melahirkan,” kata Alvarez-Bueno.

Sebagian besar program intervensi berlangsung selama tiga bulan atau lebih dan merekomendasikan tiga sampai lima sesi latihan per minggu, namun penelitian saat ini tidak menarik kesimpulan atau memberikan rekomendasi tentang jenis atau lamanya olahraga yang paling menguntungkan.

American College of Obstetrics and Gynecology merekomendasikan pada tahun 2009 bahwa wanita hamil dan pasca-persalinan setidaknya harus terlibat dalam 30 menit aktivitas fisik moderat hampir setiap hari dalam seminggu.

“Kami tahu bahwa olahraga sama efektifnya dengan anti-depresan bagi orang dewasa. Caranya adalah dengan mengajak mereka melakukan aktivitas fisik, “kata Beth Lewis dari University of Minnesota di Minneapolis, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Depresi pasca-melahirkan, hal ini bahkan lebih rumit karena meningkatnya stres dan kurang tidur setelah melahirkan.

Penelitian masa depan harus mencakup lebih banyak data tentang jenis program aktivitas fisik yang bisa mengurangi depresi.

“Penyedia layanan kesehatan harus tahu lebih banyak tentang durasi, intensitas dan frekuensi olahraga untuk direkomendasikan kepada ibu baru,” Alvarez-Bueno mencatat.(fny/jpnn)