Buah Mangrove Diubah Jadi Dodol dan Sirup

REWA/Bengkulu Ekspress KREATIF: Faramudita, saat menunjukkan hasil olahan buah mangrove yang sudah menjadi sirup dan onde-onde
REWA/Bengkulu Ekspress KREATIF: Faramudita, saat menunjukkan hasil olahan buah mangrove yang sudah menjadi sirup dan onde-onde

KMB Manfaatkan Mangrove Tanpa Merusak Mangrove

Memanfaatkan Mangrove tanpa harus merusak kawasannya. Salah satunya menjadikan berbagai produk olahan makanan yang mengandung banyak nilai gizi, energi dan karbohidrat tinggi. Inilai yang dilakukan Komunitas Mangrove Bengkulu (KMB)

================
REWA YOKE D,
KOTA BENGKULU
===============

SALAH satu anggota Komunitas Mangrove Bengkulu (KMB) yang juga menjabat sebagai Biro Ekonomi Sosial Masyarakat KMB, Faramudita, dengan senyum ramah menjelaskan bagaimana awal mula dirinya dan teman-temannya mengolah buah mangrove menjadi olahan yang berguna, terutama olahan makanan untuk konsumsi.

Dengan penuh semangat wanita akrab dipanggil Dita ini mengatakan, bersedia berbagi sedikit kisahnya mengenai ide membuat makanan dengan berbahan baku buah mangrove yang sedang ditekuninya hingga saat ini.

Sejak tahun 2016 lalu dirinya mengikuti study banding ke Bagan Percut Deli Serdang Sumatera Utara. Disana ada penggiat mangrove yang memanfaatkan Buah mangrove jenis Sonneratia SP kemudian diolah menjadi makanan. “Akhirnya kami teriinspirasi dari sana, ” ujar Dita.

Semula, Dita dan teman-temannya di KMB merasa prihatin terhadap tanaman mangrove yang banyak dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab di wilayah Pesisir Bengkulu. Atas dasar tersebut, KMB harus mampu menemukan solusi alternatif. Salah satunya dengan memanfaatkan buah mangrove menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat tanpa harus menebang pohonnya. “Kami mulai berpikir bagaimana memanfaatkan mangrove tanpa harus merusaknya ataupun menebangnya dan menjadikannya olahan yang kaya gizi serta bernilai ekonomi,” tambah Dita.

Pemilihan buahnya sendiri, Ia melanjutkan, tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Dari 63 spesies mangrove, hanya beberapa yang bisa diolah menjadi makanan. Tetapi di Bengkulu ada 9 jenis mangrove mulai dari Sonneratia Sp, Bruguera Sp, Apicennia Sp, Nypha, Acanthus Sp, Rhizophora Sp, Ceriops Tagal, Lumnit Zera Sp, dan Xylocarpus. “Sementara ini kami baru mengolah dua jenis buah mangrove Sonneratia Sp dan Bruguiera Sp,” terang Dita.
Dita menuturkan, untuk buah mangrove yang diolah didapatkan dari wilayah hutan mangrove di Kota Bengkulu yaitu di Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang, Pulau Baii dan Sungai Hitam.

“Bahkan di Pulau Enggano potensi buah mangrove sangat besar tetapi sayang belum dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,” sambung Dita.

Buah mangrove dapat diolah menjadi teh dan sirup, yang ternyata berkhasiat mampu mengempiskan tumor dalam tubuh. Selain itu, sisa olahan sirup dapat dijadikan olahan lain seperti permen lalu cincau juga dodol dan onde-onde, kemudian juga bisa menjadi kecap, sabun, lulur bahkan pewarna batik. “Tapi kami baru mengolah buah mangrove jadi onde onde, dodol, dan sirup. Rencananya kami akan membuat es dari buah mangrove juga,” ungkap Dita.

Sembari Bengkulu Ekspress mencicipi hasil olahan sirup yang terbuat dari buah mangrove yang terasa sedikit asam. Dita menerangkan, bagaimana proses pembuatan sirup dari buah mangrove. Sebelum dilakukan pengolahan, buah mangrove yang sudah matang terlebih dahulu diambil daging buahnya.

Setelah itu, buah direbus dengan air gula dan barulah olahan dari buah ini bisa dikonsumsi. Sedangkan proses pembuatan dodol dan onde-onde, hanya isian didalam onde-onde dibuat dari buah mangrove. “Sedangkan proses pembuatan dodol buah mangrove hampir sama persis dengan membuat dodol pada umumnya hanya saja rasanya asam sesuai ciri khas dari buah mangrove,” terang Dita sambil tersenyum.

Dia menjelaskan, walaupun rasa hasil olahan buah mangrove ini terasa asam di mulut. Ternyata buah mangrove walaupun berasa asam, dipercaya memiliki nilai gizi yang tinggi bahkan melampaui berbagai jenis pangan sumber karbohidrat yang biasa dikonsumsi masyarakat seperti beras, jagung singkong atau sagu. “Selain itu, Buah Mangrove juga mengandung vitamin baik A, B1, B2, dan Vit C,” imbuh Dita

Ditanya soal harga produk olahan yang kreatif ini, dia mengaku kisaran harga produknya tergolong ekonomis dan tidak begitu mahal. Onde onde buah mangrove hanya dijual dengan harga Rp 6 ribu/pack, dodol Rp 10 ribu/pack, dan sirup Rp 5 ribu/cup. “Dan semua yang saya lakukan ini bukan bisnis semata, tapi ingin menciptakan kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan buah mangrove tanpa merusaknya pohonnya,” tambah Dita.

Perempuan yang pernah berkuliah di Universitas Bengkulu Jurusan Kehutanan ini mengungkapkan, dengan mengelola buah mangrove diharapkan dapat menghentikan fenomena penebangan liar yang biasanya dilatar belakangi desakan ekonomi. “Penebangan liar itu sebenarnya bisa ada karena masalah ekonomi, untuk itu kami berusaha memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa banyak potensi dari buah mangrove,” jelas Dita.

Hal ini terbukti dengan mengajak masyarakat sekitar untuk terlibat dalam olahan ini. Dengan demikian, mereka juga bisa terbantu dari segi ekonominya dan tidak merusak hutan mangrove di wilayah Pesisir Muara dan Pantai. “Dengan begini kita mampu menciptakan kemandirian ekonomi tanpa harus merusak kawasan Mangrove yang ada,” tutupnya.(**)