BI Optimis Ekonomi Tumbuh 5,2 Persen

JOS HENDRI/Bengkulu Ekspress Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, dan Plt Gubernur Rohidin Mersyah foto bersama seluruh undangan yang hadir dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2017.
JOS HENDRI/Bengkulu Ekspress Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Endang Kurnia Saputra, dan Plt Gubernur Rohidin Mersyah foto bersama seluruh undangan yang hadir dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2017.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu mencatat di tahun 2017 ini perekonomian Bengkulu diperkirakan tumbuh melambat pada kisaran 4,8-5,1 persen dengan baseline 4,98 persen. Hal tersebut disebabkan perlambatan konsumsi pemerintah dan juga turunnya harga komoditas karet. Namun BI optimis pada tahun 2018 mendatang pertumbuhan ekonomi Bengkulu akan naik mencapai 5,0-5.2 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra menyampaikan, pemikiran Bank Indonesia tentang kondisi ekonomi terkini dan prospek ke depan itu yang dirangkum dalam paparan bertema “Memperkuat Momentum”.

Tema tersebut sangat relevan dalam menyikapi pemulihan ekonomi Bengkulu saat ini. Kondisi ini bersumber dari perlambatan konsumsi pemerintah dan juga tidak terlepas dari harga komoditas karet yang tidak sebaik tahun lalu.

“Melambatnya perekonomian Bengkulu disebabkan beberapa faktor seperti belanja pemerintah dan turunnya harga komoditas karet,” ungkap Endang pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2017 (PTBI Tahun 2017) yang diselenggarakan di Auditorium Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Rabu (13/12).

Perlambatan kondisi perekonomian Bengkulu tersebut juga diikuti laju inflasi yang dalam kondisi terkendali, dimana sampai dengan November 2017 mencapai 2,99 persen (yoy). Bahkan hingga akhir 2017, laju inflasi Bengkulu diperkirakan sebesar 3,15 persen (yoy) atau lebih rendah dibanding tahun lalu sebesar 5,00 persen (yoy).

“Tingkat inflasi Bengkulu masih terkendali dan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu, laju Inflasi Bengkulu di perkirakan akan lebih rendah dibanding laju inflasi nasional yang diperkirakan sekitar 3,0-5,0 persen dan sesuai dengan sasaran inflasi 2017,” tambah Endang.

Terkendalinya tingkat inflasi Bengkulu tidak serta merta mampu membuat beberapa harga komoditas utama bertahan, bahkan membuat beberapa harga komoditas utama mengalami penurunan harga, yaitu sawit dan karet. Penurunan harga beberapa komoditas utama tersebut juga mendorong perlambatan perekonomian Provinsi Bengkulu khususnya dari sektor pertanian. Diperlukan reformasi struktural untuk meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu.

“Dengan diadakan reformasi struktural, maka pertumbuhan ekonomi di Bengkulu ke depan akan kembali menguat,” ujar Endang.

Oleh karena itu, agar reformasi struktural dapat berjalan baik diperlukan strategi pembangunan yang sesuai dan tepat sasaran. Sehingga Bank Indonesia melanjutkan kajian tentang faktor-faktor penghambat pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu. Berdasarkan hasil kagiatan, ditemukan bahwa terdapat 5 hambatan utama perekonomian di Provinsi Bengkulu yaitu infrastruktur konektivitas pelabuhan, sumber daya manusia, kapasitas listrik, Industri hilirisasi dan infrastruktur konektivtas bandara.

“Lima faktor penghambat ini harus segera diberikan solusi agar tidak lagi menjadi penghambat untuk pertumbuhan ekonomi Bengkulu,” jelas Endang.

Beberapa faktor penghambat tersebut dapat diimbangi dengan cara memaksimalkan potensi yang ada di Bengkulu. Terdapat 4 sumber potensi yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru di Bengkulu dengan harapan dapat memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi Bengkulu itu sendiri, yaitu sektor maritim, ektor pariwisata, sektor peternakan, dan sektor agribisnis.

“Sektor-sekor inilah yang menjadi tumpuan ekonomi bengkulu dimasa yang akan datang dan diharapkan bisa dikembangkan,” tambah Endang.

Selain itu, Bank Indonesia juga mengapresiasi langkah-langkah strategis yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu seperti adanya proyek strategis pengembangan infrastruktur yang memiliki banyak dampak positif bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Bengkulu. Serta proyek-proyek startegis lainnya seperti proyek jalan kereta api Pulau Baai-Kota Padang dan yang jadi penghubung ke Provinsi Jambi, pembukaan rute penerbangan Bengkulu-Jambi, Bengkulu-Padang, Bengkulu-Bandung dan penerbangan tambahan Bengkulu Palembang, dan Penyelesaian Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Provinsi Bengkulu.

“Hal-hal ini berdampak positif terhadap pengendalian Inflasi serta mampu menghubungkan provinsi ke berbagai daerah lainnya dan mempermudah logistik barang,” jelas Endang.

Tak hanya itu, pengembangan kawasan Pulau Baai menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui kerja sama dengan PT Pelindo dan IPC Port of Bengkulu juga dinilai akan dapat menumbuhkan perekonomian Bengkulu menjadi lebih baik. Bahkan pengembangan Bandar Udara Fatmawati Soekarno sebagai Bandara lnternasional mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi 0.63 persen

“Pengembangan Pelabuhan Pulai Baii dan Bandara Fatmawati menjadi faktor penentu pertumbuhan Bengkulu yang akan menjadi lebih tinggi dibanding sebelumnya,” tambah Endang.

Dengan berjalannya proyek-proyek strategis tersebut, BI memproyeksikan pada tahun 2018 mendatang, pertumbuhan ekonomi Bengkulu akan mencapai 5,0-5.2 persen. Pertumubuhan ekonomi tersebut masih bertumpu pada peningkatan pendapatan masyarakat yang didukung oleh peningkatan harga komoditas karet dan Crude Palm OIL/(CPO), kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2018 yang telah disetujui yaitu sebesar Rp 1,888 000, dan penerapan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Tahun 2018 mendatang pertumbuhan ekonomi Bengkulu diproyeksikan akan naik mencapai 5,0-5.2 persen dengan harapan peningkatan harga komoditas karet dan CPO diertai dengan naiknya UMP dan TPP pegawai,” jelas Endang.

Selain ekonomi mengalami pertumbuhan, inflasi regional juga pada 2018 mendatang diperkirakan akan berada dalam kisaran sebesar 3,5 plus minus 1 persen. Target tersebut akan terwujud dengan saling menjaga komitmen anatara tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjalankan kebijakan-kebijakan pengendalian harga sesuai madmap yang telah disusun.

“Inflasi diprediksi akan tetap terkendali dengan meningkatkan kerja sama antar daerah dan wilayah Sumatera dan daerah-daerah lain sebagai produsen komoditas yang mampu menjadi subtitusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap wilayah tertentu,” terang Endang.

Terakhir Endang mengatakan, pihaknya optimis pertumbuhan ekonomi Bengkulu ke depannya akan semakin tinggi dan naik disertai dengan kesejahteraan masyarakat yang juga meningkat.

“Kami optimis kedepannya Bengkulu akan semakin maju seiring dengan berbagai proyek strategis yang dilakukan untuk memajukan Bengkulu,” tukas Endang.

Sementara itu, Plt Gubernur Bengkulu Dr H Rohidin Mersyah MMA mengatakan, meskipun pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu pada 2017 tidak sebesar pertumbuhan ekonomi pada 2016, tetapi geliat investasi ke Provinsi Bengkulu meningkat.

“Memang pertumbuhan ekonomi Bnegkulu tidak sebesar tahun lalu, namun geliat investasi tahun ini meningkat tajam,” ujar Rohidin.

Meningkatnya investasi ke Provinsi Bengkulu ini disebabkan oleh langkah strategis yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Bengkulu, diantaranya pengembangan infrastruktur yang sudah dilakukan oleh Pemprov Bengkulu.

“Proyek-proyek strategis yang dilakukan oleh pemprov Bengkulu diharapkan bisa semakin meningkatkan laju investasi Bengkulu,” tambah Rohidin.

Ia pun optimis pertumbuhan ekonomi Bengkulu kedepannya mampu meningkat dan mencapai hasil yang maksimal seiring dengan berkembangnya berbagai proyek strategis di Bengkulu.

“Kami optimis kedepannya ekonomi Bengkulu bisa tumbuh dan mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat Bengkulu,” tukas Rohidin.(999)