BI Dorong Transaksi Non Tunai

Bengkulu
JOS HENDRI/Bengkulu Ekspress : KOMPAK : Kepala Tim SP, PUR, Layanan dan Administrasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Slamet Sudiarto dan Kepala Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Provinsi Bengkulu, Christine R Sidabutar berserta Cak Lontong dan undangan lainnya berfoto bersama usai digelarnya Temu Responden BI Bengkulu di Santika Hotel Bengkulu, Rabu malam (28/9).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu tengah gencar mendorong masyarakat di Provinsi Bengkulu untuk meningkatkan penggunaan transaksi non tunai. Karena selain tidak harus membawa uang, transaksi non tunai juga memiliki banyak manfaat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra melalui Kepala Tim SP, PUR, Layanan dan Administrasi Kantor Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Slamet Sudiarto didampingi Kepala Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Provinsi Bengkulu, Christine R Sidabutar mengatakan, sekarang ini secara nasional BI sedang mendorong agar masyarakat lebih meningkatkan transaksi non tunai.

“Kenapa transaksi non tunai penting? Karena transaksi non tunai manfaatnya sangat banyak,” ujar Slamet usai acara Temu Responden BI Bengkulu di Santika Hotel Bengkulu, Rabu malam (28/9).

Dijelaskan Slamet, transaksi tunai merupakan salah satu faktor pendukung tidak efektifnya pengeluaran negara. Bank Indonesia (BI) harus mengeluarkan dana sebesar Rp 3 triliun/tahun untuk mengelola uang tunai mulai dari mencetak, menyimpan, mendistribusikan, dan memusnahkan uang. Selain itu, transaksi menggunakan uang tunai juga dihindari oleh perbankan di Indonesia karena biayanya yang mahal. Transaksi menggunakan uang tunai memerlukan biaya tambahan untuk penghitungan, pengamanan dan pencatatannya. Hal ini berdampak pada pembengkakan biaya operasional perbankan sehingga bank harus menaikkan bunga kredit untuk menambah pemasukannya.

“Jika kita menggunakan transaksi non tunai untuk segala pembayaran, tentunya kita akan turut membantu menghemat pengeluaran negara,” jelas Slamet.

Slamet menambahkan, jika bertransaksi tunai, sebagai pedagang atau penyedia layanan harus menyiapkan uang kembalian yang cukup besar. Selain itu, untuk menyiapkan uang kembalian ini, juga memakan waktu sehingga membuat transaksi berjalan lama. Tidak hanya itu saja, sebagai pembeli kita juga harus menyiapkan uang pas jika tidak mau ribet.

Belum lagi jika kita ingin membeli barang yang harganya relatif mahal, kita harus menyiapkan uang tunai yang jumlahnya tidak sedikit. “Tambah ribet lagi kan. Sedangkan membawa uang tunai dengan jumlah besar tidaklah aman dan rawan tindakan kriminalitas,” tambah Slamet.

Diakui Slamet, jika kita menggunakan transaksi non tunai, kita tidak perlu menyiapkan uang pas dan pedagang atau penyedia layanan pun tidak perlu menyiapkan kembalian karena transaksi langsung memotong nominal di dalam chip/server/atm. “Disisi lain, transaksi non tunai lebih praktis dan aman karena pembeli tidak perlu membawa uang cash sekalipun harga barang yang dibeli relatif mahal,” ujar Slamet.

Slamet menerangkan, maksimum transaksi tiap bank berbeda, namun rata-rata jumlah nominal maksimum berkisar mulai Rp 1 Juta hingga Rp 5 juta per transaksi dan Rp 20 juta tiap bulannya. “Selain itu transaksi pembayaran non-tunai juga lebih cepat bila dibandingkan tunai karena tidak perlu menunggu proses menghitung dan pemberian kembalian,” terang Slamet.

Slamet kembali menjelaskan, uang tunai merupakan lembaran atau kepingan uang yang berpindah tangan dari satu orang ke orang lain. Sadar atau tidak sadar, uang tunai itu mengandung kuman dan bakteri tak terlihat karena bisa dipastikan salah satu dari pemegang uang sebelumnya tangannya tidak bersih. Namun jika kita melakukan pembayaran non tunai kita hanya menggunakan kartu yang mana hanya kita saja dan pegawai merchant saja yang memegangnya. “Memang bukan berarti menghilangkan kemungkinan kartu yang kita pegang anti-kuman dan bakteri, tapi paling tidak transaksi non tunai mengurangi kemungkinan itu,” tambah Slamet.

Selain itu, Slamet juga mengatakan, transaksi non tunai juga dapat meminimalisir peredaran uang palsu karena tidak menggunakan uang cash yang mudah dipalsukan. Jadi cukup dengan satu kartu tanpa khawatir menerima uang palsu.

“Jadi kalau kita menggunakan transaksi non tunai maka kita juga meminimalisir kemungkinan uang di palsukan,” kata Slamet.

Slamet mengatakan, BI sekarang ini mendorong seperti itu, jadi mulai sekarang hingga nanti, BI berharap banyak Masyarakat sudah menggunakan transaksi non tunai karena selain bermanfaat juga lebih praktis. “Semoga Masyarakat Bengkulu semakin banyak yang menggunakan transaksi non tunai,” tutupnya.(999)