Beruang Sempat Masuk Perangkap

Bengkulu
Jefryy/Bengkulu Ekspress – Kades Menunjukkan lokasi kemunculan beruang di kandang ayam petelur warga. Kades Padang Pelawi dan babin kamtibmas mengecek ke lokasi perangkap beruang, kemarin (25/4/2017)

SUKARAJA, Bengkulu Ekspress – Beruang yang selama ini meresahkan warga, sekitar pukul 06.30 WIB, kemarin (25/5/2017) berhasil masuk perangkap yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Beruang pun berhasil memakan ayam yang dimasukkan sebagai umpan di perangkap tersebut. Hanya saja, beruang itu menyadari dirinya masuk perangkap, sehingga meronta sekuat tenaga hingga perangkap berbentuk kerangkeng besi tersebut rusak, dan akhirnya beruang itu berhasil meloloskan diri.

Peristiwa tersebut disaksikan Kirdi (56) warga Dusun Perluasan Desa Padang Pelawi, Kecamatan Sukaraja. Saat dia berniat melakukan aktivitas di Kebun karet miliknya. Kirdi pun mengurungkan niatnya begitu melihat beruang sebesar anak kerbau itu ada di dalam kerangkeng besi.

“Ayam sebagai umpan perangkap sudah berhasil dimanakan beruang, hanya saja mengetahui dirinya sudah dalam perangkap beruang tersebut meronta-ronta sehingga berhasil melarikan diri lagi,” ujar Kirdi kepada Bengkulu Ekspress kemarin (25/4/2017) saat diwawancarai di lokasi terperangkapnya beruang tersebut.

Diceritakan Kirdi, saat dirinya menuju kebun karet miliknya menggunakan motor, dia sudah menyaksikan keberadaan beruang yang telah masuk perangkap itu. Saat itu beruang sedang berusaha membuka perangkapnya dengan cara menggoyangkan kerangkeng besi itu tenaga. Selang beberapa menit kemudian beruang tersebut berhasil melarikan diri.

”Hal tersebut langsung saya mengabarkan dengan Yanto (34) dan kepala desa. Perangkap yang dipasang tersebut bersebelahan dengan rumah Yanto. Sebelumnya beruang ini juga sempat bermain dan memakan ayam ternak milik Yanto.

“Minggu kemarin beruangnya sudah berada belakang rumah Yanto untuk memakan ayam ternak. Bahkan mencari makanan di bawah kandang ayam petelur milik Yanto,”sampai Kirdi.

Sementara itu, Yanto sendiri membenarkan adanya beruang yang mencari makan di belakang rumahnya. Bahkan beruang sebesar anak kerbau tersebut juga mengitari kandang ayam petelurnya untuk mencari makan. Hanya saja, saat itu ayam petelur mengeluarkan suara dan semakin gaduh sehingga membuat beruang itu kabur. Kaburnya beruang ini masih berada di seputaran rumah. Sebelumnya ayam yang sedang mengeram milik tetangga Yanto juga berhasil dimakan beruang itu.

“Kami sudah was was sekali, Mas. Beruangnya sudah berada di belakang rumah. Apa lagi sudah berada di bawah kandang ayam petelur mencari makan pula,” keluhnya.

Kepala Desa Padang Pelawi Ridi Kismantoro menyampaikan, keresahan warga ini sudah sering terjadi. Segala upaya sudah dilakukan untuk menangkap beruang itu, namun baru kali ini berhasil masuk perangkap. Ironisnya perangkap yang dipasang saat ini macet dan beruang itu sendiri berhasil melarikan diri.

“Setidaknya kita berharap BKSDA bisa memasang perangkap lebih dari satu seperti saat ini. Ditambah lagi perangkap yang di pasang saat ini tengah rusak dan beruang sendiri bisa melarikan diri dengan membukanya,” imbuhnya.

Kades menyampaikan, setelah meloloskan diri dari perangkap sekitar pukul 09.00 WIB, dua ekor beruang tersebut masih berada di seputaran desa mencari makan. Tentu saja hal ini membuat warga di desa perluasan semakin was was, tidak berani keluar rumah. Hingga pukul 09.30 WIB beruang itu masih berada di seputaran Dusun Perluasan.

“Kita ingin mengusirnya juga tidak bisa toh beruangnya selalu berada di seputaran desa untuk mencari makan. Salah satu caranya nya adalah dengan menembaknya namun hal ini jelas dilarang,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Petugas BKSDA Wilayah II Resort Sukaraja Rusdan menegaskan, tim BKSDA sudah mendatangi lokasi pemasangan perangkap. Perangkap yang dipasang mengalami kerusakan sehingga beruang tersebut berhasil melarikan diri.

“Perangkap ini akan kita pindahkan lagi ke lokasi strategis beruang mencari maka. Termasuk memasang dan menambah perangkap itu sendiri,” ucapnya.
Rusdan mengharapkan warga di dusun perluasan dapat selalu waspada. Mengingat sewaktu-waktu beruang ini masih munculberada di kawasan ini. Karena sumber makananannya masih tersedia banyak di dusun tersebut.

“Kita tetap berusaha menangkap dengan menggunakan perangkap. Jika menangkapnya dengan bius dengan tembakan kita tidak berani melakukannya,” sampainya.

Berkaitan dengan teror beruang madu di Desa Padang Pelawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, BKSDA Provinsi Bengkulu memberikan beberapa tips untuk mengusir beruang madu yang masuk pemukiman masyarakat. Salah satu caranya dengan menimbulkan bunyi-bunyian atau suara nyaring. Suara nyaring itu bisa dihasilkan dari mercon, meriam dari bambu atau bunyi yang dihasilkan dari kaleng. Meski demikian suara nyaring untuk mengusir tersebut jangan sampai melukai beruang.

“Kita sudah mendapat laporan terkait beruang yang masuk ke pemukiman warga di Desa Padang Pelawi. Mengingat perangkap kurang bekerja maksimal, kami sarankan mengusir beruang dengan bunyi-bunyian, ” jelas Subag TU BKSDA Provinsi, M Mahfud, kemarin (25/4/2017).

Perangkap dari BKSDA yang terpasang memang belum maksimal bekerja. Ini dikarenakan beberapa masalah teknis, seperti beruang sudah masuk, tetapi belum menyentuh umpan atau sudah masuk tetapi keluar lagi karena mencium keberadaan manusia.

Untuk sementara BKSDA belum bisa mengambil tindak lanjut dengan menurunkan tim ke lokasi teror beruang. Tim turun jika teror beruang sudah tahap mengkhawatirkan. Artinya beruang sudah bertindak berlebihan, menyerang warga atau merusak pemukiman warga. Jika sudah seperti itu langkah tegas melumpuhkan beruang dengan bius dilakukan.

Dengan memberikan saran demikian, bukan berarti BKSDA tidak peduli dengan keluhan warga di Desa Padang Pelawi terkait teror beruang tersebut. Ini disebabkan beruang madu satwa langka dilindungi undang-undang, maka perlu langkah hati-hati menindaklanjutinya.

Masyarakat bisa menjadi mitra BKSDA, artinya bekerja sama dalam penanganan satwa liar. Pertama, masyarakat ramai-ramai menghalau beruang supaya kembali ke habitatnya. Meski cara tersebut cukup sulit karena habitat asli beruang sudah rusak, tetapi bukan tidak mungkin berhasil jika semua masyarakat bekerja sama.

“Beruang itu sebenarnya takut dengan manusia, artinya kita pasti bisa mengusir ke habitat asli tanpa melukai beruang tersebut,” tegas Mahfud.

Terkait pencegahan beruang masuk ke pemukiman, kata Mahfud,nampaknya sulit dilakukan. Selain populasi beruang di Kabupaten Seluma masih cukup banyak, habitat asli mereka sudah banyak rusak. Terlebih lagi beruang masuk ke pemukiman karena naluri mereka yang kesulitan mendapatkan makanan di habitat asli mereka. Tidak heran jika mereka masuk ke pemukiman warga untuk mencari makan. (167/(333)