Bengkulu Pusat Pemantau Cuaca Dunia

EKO/Bengkulu Ekspress TERBANGKAN: Tim Peneliti Cuaca dari YMC Jepang saat menerbangkan balon cuaca di halaman Kantor Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Fatmawati Bengkulu.
EKO/Bengkulu Ekspress TERBANGKAN: Tim Peneliti Cuaca dari YMC Jepang saat menerbangkan balon cuaca di halaman Kantor Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Fatmawati Bengkulu.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Kondisi cuaca alam di Provinsi Bengkulu, menjadi sorotan dunia. Hal ini dibuktikan dengan adanya 9 negara yang menjadikan Bengkulu menjadi tempat titik koordinat pemantauan cuaca. 9 negara itu diantaranya, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Philipina, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Korea.

Koordinator Year of the Maritime Continent (YMC) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pusat, Dr Fadli Syamsudin mengatakan, kondisi cuaca Bengkulu yang dinilai unik, lantaran memiliki cuaca fenomena lokal yang tidak dimiliki daerah lain dan negara lain.

“Cuaca di Bengkulu ini sangat mempengaruhi di negara lain. Kalau buruk cuacanya, tentu di negara tetangga yang sudah masuk sebagai negara di benua maritim itu akan ikut buruk,” terang Fadli kepada Bengkulu Ekspress, usai ikut menyaksikan penerbangan balon udara yang dilakukan oleh peneliti dari Negara Jepang di halaman Kantor Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Fatmawati Bengkulu, kemarin (27/12).

Dikatakanya, penelitian ini merupakan program internasional dimulai pada tahun 2017 dan akan selesai pada tahun 2019 mendatang.
Satu persatu negara, dari 9 negara itu akan melakukan penelitian atau pemantauan cuaca di Bengkulu. Bahkan rencananya, Bengkulu akan dibakukan sebagai center penelitian cuaca dunia.

“Sudah Jepang ini, nanti ada Amerika Serikat yang melakukan penelitian ke Bengkulu. Termasuk negara lain,” paparnya.

Tidak hanya itu, Fadli menambahkan penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui prediksi variabilitas atmosfer dan laut di benua maritim. Hal ini penting untuk diketahui, lantaran hasil penelitian yang didapatkan nanti akan sangat mempengaruhi sistem iklim dunia.

Penelitian tidak hanya dilakukan di daratan, namun juga dilakukan di perairan Bengkulu bagian Barat Sumatera dengan menggunakan Kapal riset Mirai miliki Japan Agency for Marine-earth Science and Technology (JAMSTEC).

“Untuk didarat selesai penelitaannya sampai tanggal 15 Januari, sedangkan untuk penelitan di kapal dimulai pada 5 Desember 2017 sampai 1 Januari 2018 mendatang,” jelas Fadli.

Untuk penelitian cuaca di darat dan laut itu akan melakukan penelitan terkiat ukuran arus, pengukuran menggunakan balon cuaca, radar cuaca dan curah hujan. Kemudian ada pengukuran parameter aseanografi, seperti suhu, salinitas, tekanan dan gelombang internal.

Fadli juga menjelaskan, keunikan cuaca di Bengkulu dengan fenomena lokal itu, lantaran fenomena ini tidak bisa dilihat melalui satelit. Seperti dilihat dari curah hujan saja, di musim kering Bengkulu tetap memiliki curah hujan tinggi.

“Ini yang tidak bisa diprediksi dan diukur melalui setelit, jadi memang harus dilakukan di Bengkulu,” tambahnya.

Hasil dari penelitian ini nantinya tentu akan mempengaruhi cauca dunia, seperti untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca, iklim bagi kepentingan penerbangan dan tak kalah pentingnya untuk membantu program ketahanan pangan nasioanal.

Disini negara bisa mengatahui, kapan akan melakukan program dan menentukan kebijakan iklim dunia. Disamping itu juga, untuk memberikan kesempatan peneliti Indonesia untuk berkontribusi terhadap peneliti skala internasional.

“Hasil nanti kita harap bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membantu program pemerintah dan tanggap akan berbagai macam bencana hidrometeorologi,” tegas Fadli.
Disisi lain, Peneliti YMC asal Jepang, Ryuichi Shirooka Ph D mengatakan, cuaca Bengkulu memang unik dan sangat berpengaruh sekali dengan cuaca di negara Jepang. Untuk itu penelitan yang dilakukan tentu akan dimaksimalkan, terkait pencarian data cuaca.

“Cuaca Bengkulu sangat berhubungan sekali dengan di Jepang dan penelitian yang kita lakukan disini lebih akurat, dibanding kami lakukan di dearah atau negara lain,” ujar Ryuichi.
Sementara itu, Kepala BMKG Fatmawati Bengkulu, Warjono SSi MKom mengatakan, yang mempengaruhi Bengkulu memilik cuaca fenomena lokal itu, lanaran Bengkulu dikelilingai dengan bukit barisan.

Ditambah lagi angin laut dan daerah di Bengkulu juga memiliki pengaruh besar untuk daerah lainnya. “Jadi memang penting untuk dilakukan penelitian di Bengkulu,” ungkap Warjono.
Hasil yang akan diberikan nanti, tentu akan membantu BMKG untuk memberikan prediksi cuaca. Sehingga pemerintah mapun masyarakat dapat mengetahui secara jelas, cuaca apa yang bakal akan terjadi kedepan. “Banyak manfaatnya, baik untuk untuk pemerintah, jalur penerbangan dan lainnya. Jadi kita punya tugas besar, untuk memberikan informasi ini kepada masyarakat,” pungkasnya. (151)