Bengkulu Punya Kesamaan dengan Hawai

Gun/Bengkulu Ekspress KOMPAK: Foto bersama Satgas Bencana BPBD Kota Bengkulu usai simulasi tanggap bencana dan Siaga Bencana
Gun/Bengkulu Ekspress KOMPAK: Foto bersama Satgas Bencana BPBD Kota Bengkulu usai simulasi tanggap bencana dan Siaga Bencana

Simulasi Tanggap dan Siaga Bencana

UNTUK meningkatkan kesadaran tanggap bencana terkhusus kepada Pelajar dan pihak Pelayanan Kesehatan serta masyarakat sekitar kawasan Pelabuhan Pulau Baai, Pacific Partnership (PP) 2018 melalui Pemda Kota Bengkulu melaksanakan simulasi tanggap dan siaga bencana gempa dan tsunami.

Terlebih, Provinsi Bengkulu dianggap daerah yang rawan terjadinya bencana. Simulasi tersebut dilaksanakan di Stadion Sawah Lebar Bengkulu Senin (9/4).

SSG Ito Covy, selaku Ketua Tim Rombongan Search and Rescue (SAR) PP 2018 menjelaskan, di daerahnya bertugas yakni Hawai, kondisi bentang alam dan resiko bencana sama halnya dengan kondisi di Indonesia khususnya di Bengkulu sangat tepat diaplikasikan di daerah rawan bencana ini.

“Saya merasa sangat senang dengan kegiatan PP ini, karena proses yang dilakukan sama seperti yang kami lakukan di Hawai, hanya saja perbedaan penyelamatan terhadap kondisi pada konstruksi bangunannya,” kata SSG Ito Covy melalui penerjemahnya.

Selain itu, Kasubsi Ops Kantor Pencarian dan Pertolongan Badan SAR Nasional (Basarnas) Bengkulu Zul Indra, simulasi yang dilaksanakan ini merupakan kerjasama antara Tim US Navy dengan Pemda Provinsi dan Pemda Kota Bengkulu melalui Basarnas, Pemadam Kebakaran (Damkar) serta jajaran teknis siaga bencana.

“Dari simulasi tadi, berbagai tindakan penyelamatan kita lakukan bekerjasama dengan Tim Tanggap Bencana US Navy, mulai dari penyelamatan korban bencana hingga evakuasi korban luka dan meninggal dunia. Ada juga yang baru kita laksanakan di Bengkulu, yaitu penyelamatan korban dari reruntuhan gedung menggunakan teknik CSSR (Collapsed Structure Search and Rescue),” jelas Zul Indra.

Terpisah, Direktur RS Kota Bengkulu dr Lista Cerlyviera selain memiliki tugas pelayanan kesehatan, pihak RS juga harus menjamin keselamatan pasien. Oleh karena itu, simulasi ini dilakukan meningkatkan kemampuan pihaknya dalam memberikan keselamatan bagi pasien sesuai peraturan yang dipersyaratkan.

“Simulasi Hospital Disaster ini dimana seolah-olah ada kejadian gempa susulan yang menyebabkan arus pendek listrik yang kemudian dilakukan tindakan penyelamatan bersama Tim Basarnas, melakukan penyelamatan korban dari atas gedung,” ujar dr Lista.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, simulasi saat terjadi gempa dan tsunami ini meliputi simulasi penyelamatan korban bencana, penanganan korban luka ringan dan luka berat, pemadaman si jago merah, penyelamatan korban bencana dari atas gedung, serta penanganan korban meninggal dunia.(777)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*