Bengkulu Pemasok Ganja Terbesar Kedua

Kepala BNN Provinsi Bengkulu Kombes Pol Djoko Marjatno

CURUP, BE – Pasca ditemukannya sejumlah ladang ganja di kawasan calon Kabupaten Lebong, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bengkulu Kombes Pol Djoko Marjatno SSos SH, membeberkan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut Djoko, di Indonesia, Provinsi Bengkulu merupakan provinsi pemasok daun haram tersebut. Bahkan Bengkulu merupakan pemasok nomor dua di Indonesia. Maka tidak salah bila selama ini banyak ditemukannya ladang ganja di kawasan Lembak.
“Kalau pemasok nomor satu ya Aceh, yang sudah lama kita kenal, namun Bengkulu menduduki peringkat kedua setelah Aceh,” ungkap Djoko saat berkunjung ke Rejang Lebong, kemarin (13/4).
Menurut Djoko, selain faktor jumlah, faktor kualitas ganja Bengkulu dan Aceh juga berbeda. Menurut Djoko, kualitas ganja Bengkulu masih kalah dari ganja Aceh. Karena menurut Djoko, kualitas ganja juga akan dipengaruhi oleh kontur tanah dan cuaca tempat daun haram tersebut ditanam.
“Saat ini yang masih menjadi tugas kita adalah mencari dan menelusuri asal bibit ganja yang kerap ditanam di kawasan Lembak ini,” tambah Djoko.
Menurut Djoko, penelusuran yang mereka lakukan, karena adanya perbedaan jenis ganja antara ganja dari Aceh dan ganja dari Bengkulu. Djoko mencontohkan perbedaan antara ganja Aceh dan ganja Bengkulu, salah satunya terletak pada banyaknya helai daunnya. Dimana menurut Djoko, untuk ganja aceh berhelai daun 9 sedangkan ganja Bengkulu rata-rata berhelai daun 5. Meskipun menurut Djoko daun ganja memang tidak pernah genap hitungan helainya.
“Dengan adanya perbedaan ini maka kita akan mencari asal ganja yang kerap ditanam di Bengkulu ini,” papar Djoko.
Dengan melihat peredaran dan penyalahgunaan Narkoba yang terjadi di Bengkulu, Djoko berharap peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk selalu berhati-hati dan ikut mengawasi serta tidak mencoba barang haram tersebut. Karena menurut Djoko, dampak dari penyalahgunaan Narkoba seperti ganja sangat tinggi. Salah satunya akan merusak generasi muda sebagai penerus bangsa. (251)