Bendungan Rusak, 400 Hektar Sawah Terancam

MANNA, BE – Petani di Desa Ketaping, Manna, Bengkulu Selatan mulai resah. Pasalnya, sawah yang mereka garap tidak dapat diolah secara maksimal karena tebat atau bendungan irigasi untuk mengairi sawah rusak.
“Sudah dua tahun ini tebat rusak, akibatnya ratusan sawah di desa kami hanya mengandalkan air hujan saja,” kata Kepala Desa Ketaping, Saidi, didampingi Kepala Dusun (kadus) Talang Tinggi, Rudi Hartono, Selasa (7/4).
Saidi mengatakan, tebat yang dijadikan sebagai sumber irigasi bagi sawah di desanya merupakan Tebat Baghu, yang dibangun puluhan tahun lalu atau sekitar tahun 1975 lalu.
Sawah-sawah tersebut berada ataran Lakaran, Ataran Miong dan Ataran Siwak Asam Jawa. Hanya saja dalam waktu dua tahun ini, pengelolaannya hanya berdasarkan curah hujan. Sebab kondisi dinding tebat yang terbuat dari semen sudah rusak, Sehingga air tidak tergenang dalam jembatan.
“Kalau pun hujan turun, bendungan tidak berfungsi lagi menampung air hujan, karena dindingnya sudah rusak dan bolong,” ujarnya.
Ditambahkan Saidi, kondisi tebat yang rusak ini pun sudah pihaknya sampaikan ke Pemda Bengkulu Selatan (BS) dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU). Hanya saja, dari keterangan orang PU, tebat tersebut tidak masuk aset Pemda BS, sehingga pemeliharaannya oleh Dinas PU Provinsi Bengkulu. Oleh karena itu, dirinya berharap PU Provinsi dapat segera memperbaikinya.
“Kami sudah sampaikan ke PU kabupaten agar masuk program perbaikan, namun kata orang PU (kabupaten), itu kewenangan PU Provinsi, jadi kami menunggu PU provinsi agar segera memperbaikinya,” harap Saidi. (369)