Belajar dari Jakarta Creative Hub BI Dorong Pemberdayaan UKM di Bengkulu

REWA/Bengkulu Ekspress Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu dan Media Lokal Bengkulu serta Perwakilan Pemprov DKI Jakarta saat mengunjungi JCH di Graha Niaga Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin (17/4).
REWA/Bengkulu Ekspress Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu dan Media Lokal Bengkulu serta Perwakilan Pemprov DKI Jakarta saat mengunjungi JCH di Graha Niaga Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin (17/4).
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki strategi tersendiri dalam memberdayakan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) salah satunya dengan membangun Jakarta Creative Hub (JCH). Pemprov DKI berharap JCH dapat memberikan dampak positif, baik bagi masyarakat pelaku usaha, serta berbagai daerah untuk bisa mencontoh hal ini.
REWA YOKE D – Jakarta
HARIAN Bengkulu Ekspress bersama dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu serta media lokal Bengkulu berkesempatan untuk berkunjung ke Jakarta Creative Hub (JCH), sebuah tempat berkumpulnya para pelaku usaha muda yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai wadah bagi para pelaku UKM dan Startup yang umumnya terbatas pada modal untuk dapat mengembangkan usahanya.
Sejak diresmikan pada 1 Maret 2017 lalu, JCH yang terletak di Graha Niaga Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini ramai dikunjungi masyarakat. Pengunjung yang datang akan diajak berkeliling ruangan JCH yang memiliki fasilitas 3 ruang kelas terdiri dari classroom A, B, dan C. Selain itu, JCH juga memiliki ruangan makerspace yang berisi mesin-mesin produksi serta co-office atau kantor bersama sebanyak 12 unit masing-masing berukuran 12 meter persegi, perpustakaan, ruang meeting serta sebuah kafe.
“JCH dibangun sebagai tempat untuk belajar para pelaku usaha muda yang dibuat oleh Pemprov DKI Jakarta,” ujar Koordinator Operasional JCH, Dwi Apriza, kemarin (17/4).
Adapun fasilitas JCH, kata Dwi hingga kini mendukung lima bidang usaha yakni kriya, fashion, desain komunikasi visual (DKV), arsitektur dan desain produk. Selain itu JCH juga memiliki makerspace yang berguna sebagai ruangan khusus mesin-mesin seperti 3D printing, laser cutting, woodworking atau ruangan berisi mesin-mesin pengolah produk berbahan kayu, mesin jahit, mesin obras, vacuum forming.
“Mesin-mesin ini tidak digunakan untuk produksi massal. Pengguna alat juga harus anggota JCH dan sudah mengikuti workshop sebelumnya,” sambung Dwi.
JCH sendiri diperuntukkan kurang lebih sebagai tempat research and development atau tempat untuk belajar. Dimana di JCH para anggota hanya akan membuat prototipe atau contoh produk saja, sementara untuk produksi massal dan dijual, tidak dilakukan di sini tetapi di Pabrik nantinya.
“Produksi tidak dilakukan di JCH, tujuannya agar tidak dimonopoli satu pihak. JCH bisa dianggap sebagai tempat les, bengkel kursus, tempat belajar dan kantor bersama dengan biaya bersubsidi,” jelas Dwi.
Selain menjadi tempat belajar, JCH juga bisa menjadi wadah bagi Komunitas yang Produktif sehingga aktivitas atau kegiatan datang dari masyarakat khususnya komunitas. Adapun bagi komunitas atau perorangan yang ingin beraktivitas di JCH harus menjadi rekan kerja terlebih dahulu. Baik rekan kerja institusi (RKI) ataupun rekan kerja perorangan (RKP).
“Berbagai komunitas bisa bergabung di JCH, tetapi syaratnya adalah komunitas yang sudah beraktivitas paling tidak satu tahun, punya rekam jejak bagus, dan penanggungjawabnya ber-KTP DKI Jakarta,” terang Dwi.
Rekan kerja ini juga terbuka untuk masyarakat yang memiliki usaha di bidang ekonomi kreatif dan memberdayakan masyarakat. Hingga saat ini saja sudah banyak komunitas yang mengajukan diri untuk menjadi rekan dan harus melalui seleksi ketat.
“Komunitas yang sudah menjadi rekan kerja hanya punya waktu selama satu tahun dan harus menjalankan programnya selama satu tahun kedepan,” sambung Dwi.
Lebih lanjut Dwi menerangkan, Komunitas yang menjadi rekan dan beraktifitas di sini nantinya akan berkontribusi baik untuk JCH maupun Pemda DKI Jakarta. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menggunakan co-office JCH. Mereka yang menikmati fasilitas kantor dengan biaya sewa bersubsidi juga wajib punya kontribusi untuk JCH dan untuk masyarakat.
“Rekanan yang beraktivitas di JCH wajib berkontribusi dengan mengadakan pelatihan di JCH,” lanjut Dwi.
Dwi menambahkan, JCH juga membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin menyewa co-office dengan melalui persyaratan di antaranya, usaha berjalan maksimal tiga tahun, bukan perusahaan cabang dan bergerak di bidang industri kreatif. Maksimal sewa pun hanya satu “Maksimal sewa hanya satu tahun dan diharapkan selama satu tahun, pengusaha sudah mampu membangun jaringan dan pasar sendiri,” tutur Dwi.
Terakhir Dwi mengatakan, JCH hadir dan dibangun dengan tujuan sebagai wadah bagi para pelaku UKM dan Startup yang umumnya terbatas pada modal untuk dapat mengembangkan usaha mereka. Melalui JCH diharapkan industri kreatif bisa semakin berkembang.
“JCH salah satu usaha memajukan para pelaku usaha muda khusunya UKM untuk semkain berkembang dan mampu menjadi salah satu penopang ekonomi kita,” tutup Dwi.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengembangan dan Fasilitasi UKM, Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta, Adhitya Pratama mengatakan, JCH akan memberikan fasilitas bagi pelaku ekonomi kreatif demi membangun ekonomi kemasyarakatan.
“Dari pihak pemerintah siap mendukung lewat bantuan akses permodalan juga pemasaran produk agar dikenal dan semakin maju,” ujar Adhitya.
Adhitya menambahkan, pihaknya berharap JCH ini bisa memberikan dampak positif, baik bagi masyarakat pelaku usaha, pemda DKI Jakarta serta berbagai daerah yang bisa mencontoh hal ini. “Harapan kami melalu JCH bisa memberikan peningkatan ekonomi, tidak hanya terjadi di JCH tapi bisa juga hingga ke berbagai daerah yang bisa mencontoh program ini,” tukas Adhitya.
Sementara itu, Manager Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu, Dhony Iwan K mengatakan, JCH tidak hanya memberikan ruang sebagai tempat pelatihan tetapi juga mampu membuat industri UKM menjadi lebih baik dan maju. Hal ini merupakan langkah positif untuk memajukan dunia UKM. “Kehadiran JCH adalah wujud konkret kepedulian akan kemajuan UKM agar semakin dikenal dan semakin mandiri,” ujar Dhony.
Kunjungan ini sambung Dhony, sebagai upaya belajar dan berguru kepada provinsi yang dinilai sudah mumpuni dalam memajukan dunia usahanya terutama UKM. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah Bengkulu dan BI yang terus berupaya mewujudkan UKM Bengkulu yang maju dan mampu bersaing. “Kita belajar dari ahlinya bagaimana car-cara agar nantinya UKM di Bengkulu bisa maju dan minimal setara dengan UKM lainnya dan mampu bersaing menghasilkan produk yang berkualitas,” jelas Dhony.
Berguru dari JCH, Pihaknya menilai Provinsi Bengkulu bisa meniru upaya untuk pembangunan serupa guna memajukan UKM di Provinsi Bengkulu. sebab menurutnya, walaupun pemberdayaan UKM sudah dilakukan di Bengkulu tetapi belum digarap semaksimal mungkin.
“Harapan kita ini bisa di contoh dan diterapkan di Bengkulu dimana banyak pemudanya yang kreatif sehingga nantinya bisa sebagai wadah kreatifitas untuk para pelaku UKM di Bengkulu menjadi lebih maju dan berdaya saing,” tukas Dhony.(999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*