Belajar Atasi Demam Panggung

Jos/Bengkulu Ekspress  PELATIHAN: Jamal Ambo Dai, seorang Master Of Ceremony (MC), TV Presenter, Publik Trainer sekaligus Motivator (tengah) berfoto dengan karyawan Bengkulu Ekspress Media Grup (BEMG).
Jos/Bengkulu Ekspress  PELATIHAN: Jamal Ambo Dai, seorang Master Of Ceremony (MC), TV Presenter, Publik Trainer sekaligus Motivator (tengah) berfoto dengan karyawan Bengkulu Ekspress Media Grup (BEMG).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Berdasarkan data penelitian di Amerika Serikat, sebanyak 21 persen hal yang paling ditakuti kebanyakan orang adalah berbicara di depan umum atau demam panggung. Oleh karenanya, keterampilan public speaking sangat diperlukan, terlebih hampir di semua pekerjaan.

Jamal Ambo Dai, seorang Master Of Ceremony (MC), TV Presenter, Publik Trainer sekaligus motivator bersedia berbagi ilmu yang dimilikinya dan menerangkan bagaimana menjadi public speaker yang baik dan mencegah demam panggung.

Hal tersebut sangat penting karena tidak semua orang bisa menjadi seorang publik speaker yang baik, hal tersebut disebabkan rasa takut berbicara di depan umum serta belum terbiasa.

“Diperlukan pemahaman akan pentingnya public speaking yang baik,” ujar Jamal pada training pengenalan public speaking dengan tema The Art Of Public Speaking Training di Graha Pena Bengkulu Ekspress, kemarin (10/12).

Pemahaman akan pentingnya public speaking sangat diperlukan di semua pekerjaan. Masih banyaknya orang takut berbicara dan tampil di depan umum sebagai pembicara, dikarenakan takut serta tidak menguasai materi bahkan takut dikomentari dan ditertawakan audiens.

“Faktor-faktor ini yang seringkali menjadi momok bagi kebanyakan orang untuk tampil di depan umum. Oleh karenanya kemampuan public speaking harus sering dilatih,” jelas Jamal dihadapan puluhan Karyawan Bengkulu Ekspress Media Grup (BEMG).

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melatih kemampuan public speaking yaitu pertama harus mengatasi ketakutan berbicara di depan umum dengan sering melatih diri untuk berani tampil. Hal ini menjadi landasan utama agar menjadi speaker yang baik di hadapan banyak orang.

“Modal pertama harus berani tampil dulu, jika sudah berani tampil hanya tinggal didukung oleh faktor-faktor lain,” sambung Jamal.

Setelah berani tampil, maka hal kedua yang harus dilakukan oleh seorang public speaker adalah mampu merancang struktur presentasi yang smart dan menarik serta didukung oleh kemampuan dalam membawakan presentasi dengan memukau.

“Tak hanya sekedar berani dan mampu berbicara di depan umum, tetapi kesan pertama adalah hal yang menentukan kesuksesan,  sehingga harus bisa memukau audiens,” tutur Jamal.

Oleh karenanya, untuk medapatkan kesan pertama yang baik dari audiens maka haruslah menjadi pembicara yang baik serta harus mampu menjadi pendengar yang baik. Menjadi pembicara dan pendengar yang baik diperlukan soft skill yang tinggi dengan kemampuan komunikasi yang didukung oleh inisiatif, etika/integritas, berpikir kritis, kemauan belajar, komitmen, motivasi, bekerjasama, fleksibel kreatif, mendengarkan, manajemen waktu.

“Kemampuan soft skill ini mampu membuat seorang memiliki kemampuan public speaking yang baik maka akan menjadikan dirinya speker yang hebat,” ujar Jamal.

Tujuan seseorang memiliki kemampuan public speaking yang baik menjadi sebuah keharusan mengingat tuntutan tersebut hampir ada di semua profesi, bahkan untuk profesi tukang parkir sekalipun juga butuh kemampuan public speaking. Karena kemampuan public speaking mampu meningkatkan kepercayaan diri dan aktualisasi diri.

“Kalau orang merasa terlalu besar untuk mengerjakan hal kecil maka terlalu kecil untuk menerima tanggung jawab besar. Jika kemampuan public speaking seseorang di respon dengan baik maka semuanya akan besar,” imbuh Jamal.

Tetapi memiliki kemampuan public speaking selain harus menerima tanggung jawab yang besar juga dituntut harus mampu menghadapi empat tantangan utama menjadi seorang public speaker yaitu mampu mengatasi rasa takut, harus mampu membuat audiens antusias dan tertarik, serta memiliki motivasi tinggi dan memiliki positif mindset.

“Keempat hal ini harus dimiliki dalam diri kita agar mampu menjadi speaker yang baik serta terbebas dari ketakutan sewaktu tampil di depan publik yang selama ini membelenggu kita,” tukas Jamal.

Berbicara mengenai rasa takut sewaktu tampil di depan publik merupakan hal yang biasa dihadapi oleh siapapun.

Bahkan berdasarkan data penelitian di Amerika Serikat, sebanyak 21 persen hal yang paling ditakuti seseorang adalah berbicara di depan umum. Gejala takut berbicara didepan umum adalah seperti tangan gemetar, pucat, lutut bergetar, tangan berkeringat dan dingin merupakan gejala yang normal dialami oleh setiap orang.

“Sadari bahwa itu wajar bukan penyakit dan kelainan. Hal itu sudah biasa terjadi di awal, namun kita harus bersyukur mengingat setidaknya kita pernah belajar dan mencoba,” sambung Jamal.

Sementara itu, GM BETV (Bengkulu Ekspress Televisi), Susanto mengatakan, dengan adanya training ini dapat menambah motivasi dan ilmu dalam public speaking. Karena menurutnya memiliki kemampuan public speaking yang baik akan mampu mendorong seseorang menjadi pembicara yang hebat.

“Semoga training ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kita sebagai pembicara di depan umum,” singkat Susanto.

Tak hanya itu, GM Harian Bengkulu Ekspress, Suherdi Marabillie mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi ajang sinergi sebuah gebrakan baru untuk menumbuhkan keberanian dalam diri agar mampu tampil di muka umum.

“Kita yang semula takut tampil di depan publik, diharapkan sekarang mau belajar dan membuka diri serta menjadi publik speaker yang baik,” tukas Suherdi. (999)