Bea Setelah Gerilya ke Orang Tua

dahlaniskanOleh: Dahlan Iskan

Mereka cantik-cantik dan berjilbab. Mereka siap berangkat kuliah ke-9 universitas di berbagai provinsi di Tiongkok. Mereka mendapat bea siswa untuk S-1 selama 4 tahun di sana. Ada yang masuk fakultas kedokteran, ada juga yang fakultas ekonomi/bisnis.

Tahun ini 130 calon mahasiswa seperti itu yang mendapat bea siswa melalui ITC (Indonesia-Tiongkok Cultural) Center Surabaya. Itulah lembaga kebudayaan yang saya dan Lily Soshica dirikan 10 tahun yang lalu. Mula-mula hanya melayani masyarakat yang ingin belajar bahasa Mandarin. Lama-lama dipercaya oleh berbagai universitas untuk mengurus bea siswa.

Sudah tiga tahun ini kepercayaan seperti itu diberikan kepada ITC. Mula-mula hanya 63 orang. Tahun berikutnya 67 orang. Tahun ini 130 orang. Saya ikut melepaskan keberangkatan mereka dari Surabaya Rabu lalu.

Yang berangkat itu sebagian lulusan SMA Nahdlatul Ulama (NU) Gresik. Sebagian lagi lulusan SMA pondok pesantren Nurul Jadid Probolinggo yang terkenal itu. Yang putra ada yang lulusan SMA Muhammadiyah atau SMA negeri. Beberapa lagi lulusan SMA Kristen/Katolik. Umumnya dari Jatim, Jateng-jogja, Kaltim/Kalsel dan Sulsel.

Para kepala SMA itu ikut hadir di acara Rabu lalu. Demikian juga para orang tua. Bupati Bojonegoro, Suyoto yang anaknya juga kuliah di Beijing, kami minta bicara. Untuk memotivasi orang tua calon mahasiswa agar tidak perlu mengkhawatirkan anak mereka.

“Tahun pertama dulu kami sulit meyakinkan orang tua mereka,” ujar Drs Nasihudin, Kepala SMA NU Gresik. “Kami sampai datang ke rumah-rumah mereka.”
Pak Nasihudin ini memang gigih. Dia mengawali pergi ke universitas yang dituju. “Bahasanya sulit, saya lupa nama kotanya,” ujar Nasihudin.

Dia berbicara dengan pimpinan universitas. Misalnya untuk menyediakan fasilitas makanan halal. Pihak universitas pun langsung menyiapkan fasilitas yang diminta.
Lain lagi dengan Drs Faizin, Kepala SMA Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Dia semangat memperjuangkan bea siswa untuk anak didiknya
karena kebutuhan. “SMA kami membuka jurusan bahasa Mandarin,” kata Faizin. “Lulusannya harus bisa diterima di Tiongkok.”

Seperti yang lulusan jurusan bahasa Arabnya harus bisa kuliah di Mesir atau Arab Saudi.

Di acara itu hadir juga seorang kyai muda. Namanya Mustofa. Dia mengaku lulusan pondok pesantren Langitan, Lamongan. Kini kyai Mustofa sudah memiliki pondok pesantren sendiri di Nongkojajar, Pasuruan.

Namanya: pondok pesantren Pitutur. Nama itu diambil dari nama desa setempat, Tutur, lalu ditambah Pi di depannya. “Tahun depan saya ingin 100 santri saya bisa memenuhi syarat untuk dapat bea siswa ini,” kata Mustofa penuh semangat.

Berkata begitu dia mengarahkan wajahnya ke Lily Soshica dan Andre Su. Dua orang inilah yang memimpin ITC sejak berdiri di tahun 2000 hingga kini. “Kami siapkan, pak Kyai,” ujar Lily, direktur ITC. Tahun ini pesantren Pitutur baru bisa mengirim 6 orang. Melihat pribadi kyai muda ini saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari saya: Kehebatannya. Saya harus kejar dia dengan berbagai pertanyaan. Agar terungkap orang seperti apa kyai ini sebenarnya. Kerendahan hatinya memang luar biasa. Tapi itu tidak bisa menyembunyikan kualitas pribadinya. Akhirnya ketahuan. Ternyata dia seorang dokter. Hanya saja dia tidak pernah praktek. Ternyata Kyai Mustofa juga menyembunyikan rahasia sukses lainnya. Agar tidak

kelihatan sombong. Kyai Mustofa ternyata seorang penemu sistem pendidikan yang dia namakan konstruktifisme. Sistem itulah yang dia terapkan di pondok pesantren Pitutur. Dengan sistem itu nilai kelulusan siswa SMA nya tertinggi di Jatim.

Mata pelajaran fisika, kimia dan matematikanya mendapat nilai 10. Teori-teori mengajar fisika, kimia dan matematika di pesantren Pitutur ini tidak sama dengan teori pengajaran yang sudah ada. Selepas

pendidikan dokternya dulu Mustofa ternyata menempuh pasca sarjana bidang pendidikan.

Metode baru itu juga dia terapkan untuk pelajaran kitab kuning. Kitab kuning adalah istilah pondok pesantren untuk menyebut buku pelajaran agama Islam yang sulit sekali karena ditulis dengan huruf Arab tanpa kode-kode bunyi. Kyai Mustofa menceritakan pengalamannya saat menjadi santri di pondok pesantren Langitan. Dia perlu waktu 6 tahun untuk menguasai kitab kuning. “Dengan sistem yang saya temukan ini cukup enam bulan,” kata Mustofa.

Mustofa bertekad mengandalkan mutu untuk pengembangan pesantrennya. Dia tidak mau minta dan tidak mau menerima sumbangan dari mana pun.
Ada sebuah perusahaan besar di Pasuruan pernah memaksanya menerima sumbangan. Dia tidak mau. Bahkan sumbangan dari orang tua santri pun dia tolak.

Tanpa ITC pun minat belajar bahasa Mandarin sebenarnya sudah menggeliat. Waktu di Beijing, misalnya, saya banyak bertemu mahasiswa asal Indonesia. Termasuk anaknya tokoh Islam seperti mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring. Mereka itulah yang kini ingin mendirikan asosiasi yang akan mereka beri nama: Perhati (perhimpunan alumni Tiongkok di Indonesia). (**)