Badai dan Ombak Mengancam

RIO-OMBAK GANAS-CUACA BURUK-NELAYAN PASAR BENGKULU TAK MELAUT (2)

BENGKULU, BE – Pemerintah Provinsi Bengkulu menginstruksikan agar seluruh masyarakat Bengkulu untuk meningkatkan kewaspadaannya. Sebab, saat ini Bengkulu dilanda cuaca ektrem berupa angin badai dan tingginya ombak laut yang sangat membahayakan.  Imbauan ini disampaikan Gubernur Bengkulu, H Junaidi Hamsyah melalui Kadishubkominfo Provinsi Bengkulu, Drs Misran Musa.
“Masyarakat harus selalu waspada, karena cuaca saat ini sangat tidak bersahabat,” kata Misran.
Ia bahkan mengimbau kepada masyarakat agar tidak keluar rumah jika ada hal begitu penting. Sebab mengendarai kendaraan di jalan raya pun sangat rentan, karena pepohonan  bisa saya roboh dan menimpa pengguna jalan.
“Kalau pun harus keluar rumah,  pilih jalan yang tidak ada pepohonannya,” ujarnya.
Tidak hanya itu, mantan Wakil Kepala Polda Bengkulu ini juga meminta nelayan untuk tidak melaut karena ombak diperairan luat Bengkulu cukup tinggi, mencari 4,5 meter.
“Kalau bisa nelayan jangan melaut dulu, karena sangat berbahaya,” pintanya.
Terkait dengan bantuan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk para nelayan yang tidak bisa melaut, Misran mengaku saat ini bantuan belum diturunkan, dengan pertimbangan ketinggian ombak baru terjadi 3 hari terakhir ini. Jika ombak dan badai masih berlangsung hingga beberapa hari kedepan dan masyarakat sudah membutuhkan bantuan tersebut, maka Pemerintah Provinsi Bengkulu siap menyalurkannya.
“Nanti ada tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang akan menentukan sudah layak atau belum bantuan diturunkan, karena mereka menilai sudah layak dan kondisi di perairan Bengkulu sudah dinyatakan darurat, maka semua nelayan yang akan diberikan bantuan  agar tidak kelaparan,” terangnya.
Bantuan yang sudah tersedia di gudang bencana Provinsi Bengkulu, lanjutnya, cukup beragam, mulai makan cepat saji, hingga ke selimut. Namun selimut tidak akan diberikan, karena nelayan dinilai hanya memerlukan bahan makanan untuk menyambung kehidupannya dan keluarganya.
“Yang pasti kita akan memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan,” tukasnya.
Sementara itu,  Kepala Seksi Obeservasi dan Informasi Badan Meterologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pulau Baai Bengkulu, Sudiyanto SP angin kencang yang melanda Bengkulu sejak beberapa hari belakangan ini diprediksi baru mulai berkurang Minggu (28/12) besok. Dan tidak menutup kemungkinan akan terus berlangsung hingga Januari mendatang.
“Hari ini (kemarin,red) kecepatan angin semakin kencang, yakni 15-25 knot. Ini sudah cukup kencang, karena normalnya hanya antara 5-10 knot per jam,” katanya.
Sudiyanto juga mengaku, kencangnya angin tersebut secara otomatis membuat ombak ikut naik. Dan terhitung sejak kemarin, ombak di perairan laut Bengkulu dan Enggano naik hingga 4,5 meter. Padahal sebelumnya hanya berkisar antara 1-2 meter saja.
“Nelayan kami sarankan jangan melaut dulu sebelum kondisinya benar-benar normal,” pintanya.

Nelayan Tak Melaut
Lantaran angin kencang yang melanda Kota Bengkulu, ribuan nelayan di Provinsi Bengkulu memilih untuk tidak melaut. Kondisi ini membuat sebagian besar nelayan yang mengandalkan hidupnya dari laut mengalami paceklik. Para nelayan was-was, bila cuaca ekstrem berlangsung cukup lama, mereka bisa mengalami kerugian besar.
“Saat ini kita sedang membahas masalah ini dengan pihak-pihak terkait. Bagaimana pun nelayan adalah warga kota yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Harus ada bantuan khusus kepada para nelayan dalam bentuk apapun, sembako, modal kerja, atau apapun itu. Termasuk larangan berlayarnya kapal trawl. Pelarangan harus disertai solusi,” kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Bengkulu, Iswandi Ruslan SSos, Jum’at (26/12).
Berdasarkan data yang dimiliki HSNI Kota Bengkulu, terdapat sekitar 619 kapal tangkap yang tersebar di seluruh Kota Bengkulu. Dengan rincian, kapal cincin sebanyak 12 armada, kapal bagan 18 armada, kapal 10 GT 82 armada, kapal 5 GT 96 armada, kapal lancang 100 armada, kapal pukat irik 115 armada, kapal ketek 137 armada, kapal sampan dayung 55 armada dan kapal sampan layar 4 armada.
“Dalam kondisi seperti ini, hanya kapal-kapal besar yang berani berlayar. Sementara pemilik kapal-kapal kecil sebagian besar tidak melaut. Hanya beberapa nelayan yang memberanikan diri karena keterpaksaan, itu pun tidak sampai ke tengah laut. Dan sebagian besar mereka pulang sambil gigit jari,” urainya.
Saat ini, nelayan terpaksa memarkirkan kapalnya dan mencari penghasilan dengan menjadi buruh harian atau kuli angkut. Sementara sebagian lainnya menggunakan waktu tersebut untuk memperbaiki kondisi kapal dan jaring yang rusak.
“Bisa dilihat banyak kapal dan perahu nelayan yang bersandar di pinggir laut. Sedikit nelayan yang berani menentang angin kencang dan badai yang terjadi saat ini. Sementara ada sebagian nelayan yang terpaksa beralih profesi menjadi buruh harian lepas, ada sebagian yang mengisi waktu kosongnya dengan memperbaiki kapal dan jaring,” ungkapnya.
Dikitnya ikan hasil tangkapan nelayan yang tak sebanding dengan permintaan pasar akhirnya membuat harga jual ikan melonjak drastis. Misalnya harga ikan gebur yang biasanya dijual dengan harga Rp 40-50 ribu per kilogram saat cuaca dalam keadaan normal, namun saat ini harga jualnya bisa mencapai Rp 60-70 ribu per kilogram.
Senada disampaikan Anton (35), nelayan di Kelurahan Pasar Bengkulu. Menurutnya, dikalangan nelayan, angin kencang ini mereka duga karena pengaruh angin tenggara. Kondisi iklim ini mereka rasakan hampir setiap penghujung tahun.
“Sementara suhu permukaan air laut menjadi panas, ikan-ikan biasanya memilih ke tengah laut. Jadi percuma juga kami melaut. Kalau misal kami kejar ke tengah laut, ombak besar dan gelombang tinggi bisa membuat kapal kami karam,” keluhnya.
Ia meminta kepada pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap kondisi nelayan saat ini. Menurut dia, saat ini banyak kehidupan nelayan yang memprihatinkan. Pasalnya, selain karena adanya angin kencang dan gelombang tinggi, saat ini nelayan juga dihimpit oleh naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang digunakan oleh para nelayan sebagai bahan bakar kapal mereka.
Sementara sebelumnya, Prakirawan Stasiun Meteorologi Klas III Fatmawati Soekarno (BMKG), Anjasman SSi, mengatakan, mereka sudah memberikan peringatan akan adanya angin kencang ini sejak hari Minggu, 21 Desember 2014 yang lalu. Menurutnya, kekuatan angin saat ini mencapai 32-34 knot atau 60 km per jam. Ia menjelaskan, sepanjang bulan Desember 2014, hujan di Kota Bengkulu akan terjadi secara cukup signifikan. Diperkirakan, curah hujan sepanjang bulan Desember 2014 bisa mencapai 200-300 mm per bulan. (009/400)