Awas! Garam Berbahaya Beredar

MEDI/Bengkulu Ekspress Pengawas salah satu pabrik garam saat menunjukkan perbedaan warna garam dari berbagai merek, kemarin.
MEDI/Bengkulu Ekspress Pengawas salah satu pabrik garam saat menunjukkan perbedaan warna garam dari berbagai merek, kemarin.

Teliti Kandungan Sebelum Membeli

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Di tengah kelangkaan garam konsumsi, mulai tercium permainan oknum tak bertanggungjawab mencari keuntungan pribadi. Hal ini terindikasi dari beredarnya garam berbahaya. Garam ini tak layak untuk konsumsi manusia, melainkan untuk keperluan industri.

Peredaran garam tersebut sudah menyebar ke warung- warung kecil hingga toko grosir. Padahal, khusus beberapa distributor garam di Kota Bengkulu hingga saat ini belum kedatangan stok garam konsumsi, melainkan hanya ada garam industri.

Menurut pengakuan pengawas gudang garam CV Abadi Kota Bengkulu, Indra, garam terbagi 2 jenis yakni garam industri memiliki kandungan natrium klorida atau NaCL 97,4 persen ke atas, alias kandungan airnya sangat rendah. Garam ini hanya khusus digunakan untuk pengolahan ikan asin, pengolahan kecap, batu bara, pabrik kaca, pabrik kertas hingga untuk pengeboran minyak.

Sementara untuk garam Konsumsi memiliki kandungan NaCL 93 persen ke bawah, yang baik digunakan pada makanan secara langsung seperti memasak lauk pauk. “Kita bisa melihat dari segi warnanya, kalau khusus garam Industri itu warnanya agak kecokelatan, sedangkan garam Konsumsi itu putih bersih. Walaupun ada merek SNI-nya dan izin Depkesnya terdaftar, tapi kalau isinya disalahgunakan ya salah juga,” kata Indra.

Diketahui, jika masyarakat terus menggunakan garam industri untuk dikonsumsi dalam kebutuhan dapur akan berdampak terhadap kesehatan tubuh manusia. Seperti mengganggu keseimbangan cairan yang akan menciptakan tekanan darah meningkat sehingga membuat beban jantung bertambah.

Sementara, untuk jangka panjang, dapat berakibat pada usia tua seperti berisiko terkena penyakit stroke, osteoporosis dan meningkatnya penyakit ginjal. Namun, hal ini baru dugaan karena secara fisik sangat terlihat berbeda, bahkan dugaan ini semakin diperkuat dengan pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag), Rachmat Gobel yang mengatakan kepada media nasional bahwa garam industri tidak bisa dimakan. Jika ada oknum yang melakukan maka akan melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

GaramLanjut, Indra saat ini stok garam di gudangnya masih kosong dan menunggu jadwal pengiriman garam dari Surabaya sebanyak 300 ton pada tanggal 25 Agustus. “Disarankan untuk berhati-hati memilih garam, dan yang layak itu bisa kita lihat dari warna yang putih bersih. Yang jelas kita sebagai masyarakat berhak dong mendapatkan yang layak sesuai dengan yang kita beli. Tapi ini baru indikasi karena kepastiannya itu ditentukan oleh BPOM atau Disperindag kota karena harus di uji lab dulu,” paparnya.

Berdasarkan pantauan Bengkulu Ekspress, garam yang paling banyak tersebar ke masyarakat saat ini dipasok dari Palembang, dengan menggunakan kemasan baru. Seperti yang diakui oleh salah satu pemilik warung kelontong di kelurahan Pagar Dewa, Rahma (35), dirinya mengaku sudah cukup lama tidak lagi menjual garam karena kekosongan stok barang di toko grosir.

Namun, beberapa hari sebelumnya ia kembali mengambil garam tersebut dengan merek yang berbeda dari sebelumnya. “Kita ambil dari toko itu Rp 3 ribu perbungkus, kita jual lagi Rp 4 ribu. Tapi saya coba jual sedikit dulu belum berani sekali banyak,” ungkap Rahma.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu, Hj Dewi Dharma Msi melalui Kabid sarana prasarana, Yuliansyah, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya belum menerima laporan. Akan tetapi, ia mengakui bahwa secara aturan garam Industri tidak layak untuk dikonsumsi karena memiliki kandungan berbeda.

Maka dari itu, dalam waktu dekat pihaknya akan segera membentuk tim bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu untuk menelusuri dan melakukan inspeksi mendadak ke setiap distributor maupun warung-warung kecil. Dan mengambil sampel untuk diteliti melalui uji laboratorium. “Kalau ada yang menemukan harus segera dilaporkan, biar kami tindaklanjuti.

Tetapi saat ini kita akan langsung berkoodinasi dengan BPOM. Nanti kita teliti NCal garam itu, kita awasi agar tidak membahayakan masyarakat,” imbuh Yuliansyah.

Untuk diketahui, kebutuhan garam konsumsi yang diminta oleh Disperindag kota melalui Disperindag Provinsi akan tiba sekitar 1 bulan kedepan. Sebanyak 400 ton yang merupakan garam impor dari Australia. “Jadi garam itu, masih menunggu sekitar 30 hari lagi yang dikirim dari luar negeri sebanyak 400 ton, maka bisa saja kita curigai kalau yang tersebar di masyarakat saat ini adalah garam Industri yang dikemas menjadi garam konsumsi,” pungkasnya. (805)