Arung Jeram Berakhir Maut Dosen Tewas Tenggelam

Arung Jeram
Proses evakuasi jenazah korban oleh tim Faji Lebong, Arus Ketahun Lebong dan Lebong Rafting dititik penemuan jenazah korban. Isert jenazah korban dimasukan keambulance untuk dibawak ke rumah duka dikawasan Kota Bengkulu. (Foto IST/BE).

KEPAHIANG, BE– Uji coba lintas arung jeram sungai musi di Kabupaten Kepahiang untuk kedua kalinya oleh kelompok penggiat arung jeram Etika berakhir bencana Sabtu (22/4) kemarin.

Sebab saat melintasi arus deras sungai musi dari Desa Penanjung Panjang Kecamatan Tebat Karai menuju kawasan Bermani Ilir (BI) 7 orang penumpang perahu karet tenggelam setelah perahunya menabrak batu hingga akhirnya satu orang Esti Ambaratsari (44) tewas tenggelam.

Kejadian bermula ketika korban Esti bersama mahasiswa Magupala FKIP Universitas Bengkulu Sabtu pagi berwisata arung jeram dengan membuka cam di Desa Penanjung Panjang Kecamatan Tebat Karai.

Bersama Novaldi (22), Roni Hendra (22), Sella Ramadanu (21), Jovi Handi Jaya (22), Citra Ulandari (21) dan Yhenti (21) semuanya merupakan mahasiswa korban.

“Mereka bertujuh mengarungi lintas arung jeram sungai musi sekitar pukul 14.00 WIB, sayangnya paruhnya menabrak batu hingga terbalik. Saat terbalik itu 6 lainnya muncul kepermukaan sedangkan ibu (Esti) tidak. Kawan-kawan sempat mencari tetapi tidak menemukannya,” ungkap Satria (22) mahasiswa Bahasa Indonesia FKIP UNIB yang juga ikut dalam rombangan penggiat Arung Jeram korban.

Menurutnya Satria saat kecelakaan terjadi dirinya tidak berada diatas perahu bersama rombongan korban, karena berada di cam atau tenda yang didirikannya. Saat rombongan korban yang selamat menghubungi terjadi kecelakaan sehingga seluruh rombongan melakukan pencarian hingga sore hari, sayangnya korban belum juga ditemukan.

“Sudah dicari belum juga ditemukan akhirnya meminta bantuan masyarakat disekitar,” ungkapnya.

Satria mengatakan korban sendiri berperan sebagai pengendali perahu, karena memang Esti yang pasi berbahasa inggris tersebut merupakan instruktur arum jeram serta pembini Mahasiswa Keguruan dan Pendidikan Pencinta Alam (MAGUPPALA) FKIP Universitas Bengkulu sejak berdiri ditahun 2013. “Ibu datang bukan hanya bersama mahasiswa, namun bapak (Suami korban, red) serta anak-anaknya juga ikut,” ungkapnya.

Sebelum korban bersama rombongan mengarungi derasnya sungai musi, sekitar pukul 11.00 WIB terlebih dahulu sudah ada satu rombongan yang dikomandoi suami korban Ervan.

Setelah perahu pertama berhasil mengarungi lintas baru sekitar pukul 14.30 WIB rombongan kedua (Korban, red) berlajar dengan menggunakan perlengkapan standart keselamatan peserta jeram. “Rombongan semua pakai alat pengamanan termasuk baju pelampung, namun saat perahu terbalik ibu memang tidak muncul lagi kepermukaan,” ungkapnya.

Kapolres Kepahiang AKBP Ady Savart PS SH SIK membenarkan adanya kecelakaan arum jeram disungai musi, satu orang korban ditemukan tewas setelah 17 jam tenggelam. Korban ditemukan tersangkut dikayu dialiran sungai musi tepatnya di Desa Kuti Agung Kecamatan Bermani Ilir.

“Korban ditemukan Minggu (23/4) sekitar pukul 09.00 WIB setelah dilakukan pencarian bersama-sama,” ungkap Kapolres.

Jenazah korban sempat dilarikan ke RSUD Kepahiang untuk melakukan identifikasi, diketahui korban mengalami memar dibagian kepala diduga akibat bentuan kebebatuan saat teres arus sungai. Kemudian luka lecet dibagian tangan kanan serta hidung mengeluarkan darah. Hingga saat ini pihaknya kepolisian masih melakukan pengusutan terhadap insiden maut arung jeram.

Sementara itu Dwi Nopriyanto AMd pengurus Federasi Arum Jeram Indonesia (FAJI) Lebong yang ikut melakukan pencairan hingga evakuasi jenazah korban menurutkan bila korban berhasil ditemukan oleh timnya bersama Lebong Rafting dan Arus Ketahun Lebong yang jauh-jauh datang ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) setelah mendapatkan laporan. “Korban ditemukan sekitar 2 kilometer dari lokasi terbaliknya perahu, saat ditemukan kondisi korban tersangkut dipohon yang teredam diair,” ujarnya.

Dwi mengatakan pihaknya melakukan evakuasi menggunakan dua perahu karet, sehingga berhasil menemukan jenazah korban Minggu sekitar pukul 09.00 WIB. “Setelah ditemukan korban langsung dievakuasi ke RSUD, tadi saya dan rombongan yang mengevakuasi dari TKP,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Bengkulu Patriana Sosialinda melalui Sekretaris Umum Arie Saputra Wijaya, ketika dikonfirmasi mengaku awalnya mengetahui perihal insiden tersebut dari media sosial. “Awalnya kami baru mendapat informasi mengenai hal ini tadi malam (Sabtu malam, red) itupun dari media sosial. Kami juga belum bisa memberikan komentar apapun, karena sejauh ini kegiatan arung jeram tersebut bukanlah kegiatan yang dibawah naungan FAJI Bengkulu,” ujar Arie.

Kendati demikian, terlepas siapapun yang melaksanakan kegiatan arung jeram, baik personal, kelompok, perkumpulan atau lembaga, menurut Arie, hal yang perlu diperhatikan adalah pola manajemen safety procedure dan zero accident yang mungkin terjadi. Hal tersebut penting mengingat olahraga ini rentan dengan berbagai risiko.

“Kami dari pengurs FAJI Bengkulu ikut berduka atas insiden ini. Semoga kejadian seperti ini kedepannya tidak terjadi lagi. Dan bagi kami, ini sebuah pembelajaran untuk kita semua, khususnya pelaku olahraga arung jeram.

Dimana sebelum berkegiatan baiknya kita harus mempertimbangkan mengenai SOP, Zero Accident, hingga kemampuan operatornya, apakah sudah memiliki sertifikasi sesuai dengan standar keselematan yang ada atau tidak. Hal ini yang terus kita sosialisasikan ke semua pelaku arung jeram di Bengkulu,” demikian Arie. (320)