Annarulita Muchtar Siap Melenggang ke Senayan

ASCII
Annarulita Muchtar

Prihatin Kolega Terjerat Kasus,Tunggu Instruksi Ketum

Bola panas kasus dugaan suap hakim PTUN Medan terus menggelinding. Perkara yang sedang ditangani Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) tersebut sempat mendobrak pintu Gubernur Sumatera Utara. Kini, rasuah itu ikut menyerempet Anggota DPR RI Dapil Bengkulu, Patrice Rio Capella. Mantan Sekjen NasDem tersebut diduga terlibat dan ditetapkan sebagai tersangka. Akibatnya, Rio Capella memilih meninggalkan kursinya di DPR RI. Bagaimana kesiapan Annarulita yang akan menggantikan posisi tersebut?

Tedi Cahyono, Bengkulu

RAUT ceria nampak betul dari muka Annarulita Muchtar. Dokter kecantikan yang akrab disapa mbak Anna itu sedang berbincang dengan seorang pria kala didatangi di kediamannya yang berada di Jalan Sungai Rupat, Pagar Dewa, Kota Bengkulu. Senyum pun tak lupa dilemparkannya kepada Bengkulu Ekspress, pada Jumat pagi (16/10).

Tak lama kemudian, seolah bisa meramal, ia menegaskan tak mau banyak berkomentar dulu tentang statusnya yang bakal menggantikan posisi Rio Capella di Senayan. “Belum berani,” ujarnya beralasan. “Masih menunggu instruksi dari ketum (Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh,-red),” sambungnya kemudian.

Namun, pada intinya, mantan anggota DPRD Kota Bengkulu itu mengaku cukup sedih atas musibah yang menimpa Sekjen partainya tersebut. Pasalnya, Rio Capella merupakan satu-satunya politisi asal Bengkulu yang cukup terkenal di kancah nasional. “Tapi, mau gimana lagi?” imbuhnya saat ditanya kesiapan untuk melenggang ke Senayan.

Mantan kader PNBK ini mengaku sudah banyak SMS simpati dan ucapan selamat yang masuk ke handphone-nya. Namun, ia masih enggan seolah belum percaya atas durian yang runtuh tersebut. “Beberapa SMS ucapan semoga dalam keadaan baik-baik saja banyak yang masuk, tapi belum komentar dulu lah,” kata istri dari Sahlan tersebut.

Tak hanya itu, beberapa tetangga juga sudah menyindir calon srikandi Senayan itu. Misalnya, kata dia, sudah banyak tetangga yang berpesan agar tidak sombong jika sudah duduk jadi Anggota DPR RI. “Bu kalau sudah jadi jangan lupa kaca mobil lepas,” ucapnya menirukan suara jiran-nya.

Meski sudah pasti akan menggantikan posisi Rio di Komisi III. Tapi, Wakil Bendahara DPW NasDem ini pun belum bisa memutuskan akan pindah ke Jakarta atau tetap tinggal di Bengkulu. Sebab, suami dan anak-anaknya masih mukim di Bengkulu. Usaha salon yang ia rintis pun masih ada di Bengkulu.

“Setahun ini masih berantakan. Nanti orang lain lah yang mengurus (salon tersebut),” jelasnya.
Selebihnya, ia masih tak mau banyak komentar. Tapi, ia janji, tak lama lagi akan menggelar konfrensi pers terkait hal ini. “Nantilah, pasti ada jumpa pers-nya,” ujar dia.

Wawancara pun akhirnya disambung dengan pria yang lebih dahulu mengobrol dengan dr. Anna. Pria yang belakangan diketahui bernama Muhammad Zuhdi ini ternyata adalah Ketua Tim Kampanye Annarulita Muchtar saat mencalonkan diri sebagai legislator di partai berlambang rotasi biru tersebut.

Menyambung kata Anna, ia menerangkan tak banyak yang bisa dilakukan oleh pihaknya saat ini. Dia masih menunggu surat dari DPP NasDem terkait Pergantian Antar Waktu (PAW). “Kami prihatin, tapi di sisi lain, mau tak mau mbak Anna yang akan menggantikan posisi Rio.” Penggantian posisi tersebut, menurutnya, adalah resiko dari amanah politik yang harus diemban karena mendapatkan suara terbanyak kedua setelah Rio saat Pileg 2014 lalu.

Ia menceritakan, sebenarnya sejak awal ia sudah menargetkan agar NasDem bisa mendapatkan 2 kursi di Senayan. Namun, suara dari Anna tak mencapai target, hanya 10.956 suara. Kalau saja pada waktu itu, Anna meraup 20.000 suara maka NasDem akan meloloskan 2 kadernya ke parlemen nasional.

“Karena, suara Rio Capella sangat tinggi, mencapai 86.405 suara. Sementara caleg lain itu paling cuma 20 ribuan. Kalau Anna bisa 20 ribuan juga,” jelasnya.

Selain itu, sejak awal Anna memang ditargetkan untuk menggantikan Rio Capella. Karena pada tahun 2014 tersebut, Rio Capella yang menjadi tim sukses Jokowi sempat menargetkan kursi menteri. “Tapi malah ini yang terjadi,” sesalnya.

Mantan staff Sekretariat DPW NasDem ini pun bercerita tentang perjuangan Anna pada saat masa kampanye. Menurutnya, Anna sangat ‘all out’ pada waktu itu hingga blusukan ke desa-desa dan sawah-sawah. Padahal, sepengetahuannya, Anna yang hidup di perkotaan sangat jarang terjun langsung seperti itu.

“Semua ini memang sudah garis tangan. Usaha yang kita lakukan dulu ternyata tidak sia-sia,” pungkasnya. (**)