Anak Bengkulu Mengajar Sukarela di Pedalaman Papua Tinggalkan Karir, Demi “Mutiara” Papua

IST/Bengkulu Ekspress Sigit Arifianto saat sedang mengajar para muridnya di Kampung Abitpasik, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua.
IST/Bengkulu Ekspress Sigit Arifianto saat sedang mengajar para muridnya di Kampung Abitpasik, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua

Hidup di tengah Kota dengan karir cemerlang, merupakan impian anak muda sekarang. Namun, beda dengan Sigit Arifianto. Dia memberikan masa mudanya, untuk “Mutiara-mutiara” pedalaman Papua. Berikut kisahnya saat diwawancarai Wartawan Bengkulu Ekspress, Rewa Yoke D.

===================
SEMANGAT mengabdi untuk negeri telah tertanam dalam jiwa Sigit Arifianto. Sarjana ekonomi Akuntansi dari Universitas Bengkulu, asal Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu ini rela menghabiskan masa mudanya di tanah Papua dan rela meninggalkan semua karir yang telah dirintisnya.

Saat dikonfirmasi oleh Bengkulu Ekspress, Sigit tengah berada di daerah pedalaman di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Diceritakannya membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 10 jam berjalan kaki dari desa tempatnya menetap untuk mengabdi.

Maklumlah, kehidupan di desa tempatnya menetap jauh dari bayangan, jangankan sinyal telepon dan internet, arus listrikpun masih enggan mengaliri desa ini.

Sejak masa kuliah, Papua sudah menjadi tanah impian bagi Sigit. Tanah yang menurutnya suatu hari harus didatanginya. Demi mewujudkan impian itu, pada tahun 2016 Sigit harus rela meninggalkan karirnya di salah satu perusahaan keuangan multinasional di Jakarta untuk bergabung dengan program Pengajar Muda yang diinisasi oleh Yayasan Gerakan Indonesia mengajar.

“Ini adalah mimpi saya, saya rela meninggalkan karir saya untuk mengabdi agar membawa Papua menjadi lebih baik,” ujar Sigit kepada Bengkulu Ekspress kemarin (28/8).

Terpilih menjadi salah satu pengajar muda di Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua tepatnya di Kampung Abitpasik, Distrik Pepera memberikan tantangan dan pengalaman tersendiri bagi Sigit.

Kabupaten yang baru terbentuk pada tahun 2002 ini berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini mampu memberikan inspirasi baginya untuk menularkan ilmu yang dimilikinya. “Saya mengajar di SD Inpres Pepera, disana saya mengabdikan diri saya untuk memberikan pengajaran bagi “Mutiara-mutiara” (anak-anak) disana,” ujar Sigit lagi.

Diungkapkan Sigit, sejak otonomi khusus, Papua menggunakan istilah kampung sebagai pengganti desa dan distrik untuk kecamatan. Kampung Abitpasik adalah kampung di tengah pegunungan Jayawijaya tanpa listrik dan sinyal telepon serta internet. “Jangan berharap ada sinyal telepon dan internet, aliran listrikpun belum ada, kecuali jika sudah ke kota itupun dengan menempuh 8 hingga 10 jam dengan berjalan kaki,” ungkap Sigit.

Desa yang ditempati sigit didiami oleh suku Ngalum yaitu suku asli Pegunungan Papua. Sebuah desa dengan rumah-rumah kayu yang berdiri di atas bukit-bukit kecil dengan dikelilingi gunung-gunung tinggi yang menjulang ke langit. Dan menjadi sebuah desa yang menjadi rumah yang nyaman bagi pendatang seperti Sigit.

“Suku Ngalum sangat ramah dan bersahabat ada ketulusan dari setiap jabat tangan dan tatap mata mereka kepada saya,” tutur Sigit.

Meskipun hanya menjadikan ubi dan keladi sebagai makanan pokok, sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan sangat baik serta toleran kepada sesama. Sebagai gambaran, keadaan desa ini seperti sebuah desa di masa masa Republik ini baru merdeka dan baru mulai akan membangun.

“Memang begitulah adanya, sangat jauh tertinggal dibanding provinsi lain yang ada di Indonesia,” ujar Sigit.

Kehidupan warga desa juga jauh dari kemewahan. Hanya berbalut kesederhanaan, namun selalu ada kehangatan di dalamnya. Kehidupan di sini berjalan begitu anggun dalam kesederhanaannya. Sesederhana rumah kayu yang mereka tempati, tanpa listrik, tanpa jalanan mulus, dan tanpa fasilitas-fasilitas yang memenuhi seperti perkotaan. “Semua masyarakat desa menjalani hidupnya dengan sederhana, jauh dari kmewahan perkotaan. Namun tetap saja ada kedamaian yang terasa,” sambung Sigit.

Keberadaan Sigit di tanah Papua tidak lain atas niat kemanusiaan. Sigit selalu membayangkan di masa depan, Papua yang damai dengan generasi penerus yang terpelajar. Satu tahun mengabdi di tapal batas bumi cendrawasih membuat Sigit sedikit demi sedikit mulai memahami banyak hal yang selama ini selalu menjadi pertanyaan, mengapa Papua begitu tertinggal.

“Tanah Papua memiliki keistimewaan sehingga diperlukan pendekatan kultur hingga pembangunan dan pendidikan bisa berjalan baik,” ujar Sigit.

Tak ada yang perlu disesali pun dikeluhkan dari semua keterbatasan ini. Sigit hanya berusaha memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk memberikan pedidikan terbaik bagi generasi penerus bangsa dari tanah Papua. “Tidak ada alasan bagi saya untuk mengeluh, keterbatasan ini harus menjadi cambuk bagi saya untuk dapat memberikan pengajaran terbaik bagi adik-adik saya yang sangat bersemangat belajar disini,” tambah Sigit.

Di kala malam, diantara kegelapan langit Papua Sigit mengaku sering mengkhayalkan murid-muridnya kelak akan sukses menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlak baik meskipun harus berkutat dengan keterbatasan yang ada.

“Dibanding persoalan listrik atau sinyal, saya lebih khawatir akan hujan, karena kalau hujan turun, murid-murid saya tidak bisa pergi ke sekolah. Kekhawatiran lainnya datang jika saya harus meninggalkan murid-murid saya selama beberapa hari karena ada tugas di kota,” sambung Sigit.

Sigit yang sejak kecil bermimpui menjadi seorang jurnalis perang di Timur Tengah ini, mengaku baru menyadari bahwa perang yang sesungguhnya ada di depan mata yakni perang melawan kebodohan dan kemiskinanan karena itulah akar dari semua masalah di dunia. “Saya disini hanya ingin meyakinkan semua bahwa meskipun hidup dalam semua keterbatasan ini, murid-murid saya akan tetap bercahaya seperti bintang-bintang yang bersinar di kegelapan langit Papua,” tutupnya.(**)