Aksi Memukau, Zaenal Beta; Maestro Pelukis Tanah Liat Lukisan Tanah Liat Bercerita Tentang Bung Karno

RIZKY/Bengkulu Ekspress LUAR BIASA: Zaenal Beta pelukis tanah liat dengan lukisan hasil karyanya menceritakan tentang Bung Karno
RIZKY/Bengkulu Ekspress LUAR BIASA: Zaenal Beta pelukis tanah liat dengan lukisan hasil karyanya menceritakan tentang Bung Karno

Zaenal Beta (57) pria asli Makassar, Sulawesi Selatan dikenal sebagai maestro pelukis menggunakan media tanah liat satu-satunya di Indonesia bahkan dunia. Datang ke Bengkulu untuk melukis tentang sejarah dan budaya Bengkulu menggunakan tanah liat.

RIZKY SOERYA TAMA –
Bengkulu

KOLABORASI alunan musik tradisional diiringi tarian dan teater menjadi modal Zaenal Beta menetapkan tema lukisan yang akan dia tuangkan kepermukaan kanvas. Dari kolaborasi tersebut ternyata menggambarkan waktu Bung Karno akan dikirim ke Bengkulu.

Ada juga cerita tentang Fatmawati, serta kehidupan Bung Karno di Bengkulu. Dari kolaborasi tersebut, Zaenal kemudian menuangkannya ke dalam lukisan tanah liat. Tangannya yang cekatan langsung bekerja, sedikit demi sedikit tanah liat yang sudah disiapkan ditempelkan ke kanvas warna putih.

Pertama dia memberikan tanah liat warna cokelat, kemudian merah bata dan hitam. Hanya dengan menggunakan jemari dan bantuan bilah bambu kecil, Zaenal mulai melukis. Sampai akhirnya lukisan yang didalamnya terlihat gambar Soekarno seperti sedang memberikan semangat kepada masyarakat, Fatmawati yang sedang menjahit bendera merah putih, serta rumah kediaman Bung Karno.

Lukisan yang cukup memukau tersebut diselesaikan Zaenal sekitar 30 menit.

“Lukisan ini bicara tentang Bung Karno, kita kan berada di rumahnya. Sekitar 30 menit tadi menyelesaikan lukisan ini,” jelas Zaenal Beta.

Zaenal Beta mengaku tidak mengalami kesulitan menyelesaikan lukisan tersebut. Karena dia sudah menguasasi sketsa serta konsep. Artinya, apa yang akan dilukis sudah dipikirkan dulu. Berbeda jika belum menguasai konsep dan sketsa, lukisan akan lama selesai bahkan cenderung tidak selesai. Terlebih lagi lukisan tanah liat berbeda dengan lukisan menggunakan cat. Tanah liat cepat kering, jika salah kemudian dihapus masih akan terlihat gambar yang salah tersebut. “Tanah liat itu cepat kering, jika salah kita hapus akan tetap kelihatan salahnya. Berbeda dengan cat yang bisa menunggu,” imbuh Zaenal.

Berbicara mengenai dari mana saja tanah liat yang diambil untuk menghasilkan lukisan bertemakan Soekarno tersebut, Zaenal mengatakan salah satu tanah yang digunakan berasal dari Bengkulu. Tepatnya tanah liat di Benteng Marlborough dipadukan dengan tanah liat disekitaran rumah Bung Karno.

Perpaduan tanah tersebut menghasilkan warna cokelat. Sementara warna merah bata merupakan tanah dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan dan warna hitam tanah liat dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. “Kita ambil tanahnya dari Benteng Marlborough dan sekitaran rumah Bung Karno. Ternyata tanahnya bagus,” jelas Zaenal.

Memang tidak sembarang tanah bisa digunakan sebagai media lukis. Menurut Zaenal yang sudah 37 tahun menekuni seni lukis menggunakan tanah liat, beberapa daerah di Indonesia mempunyai karakter dan jenis tanah berbeda. Hanya saja kasat mata orang melihat warna tanah itu merah dan cokelat.

Padahal jika sudah dituangkan ke lukisan bisa menghasilkan warna hitam, merah dan cokelat. Jika untuk media lukis, tanah liat disaring terlebih dulu sampai menghasilkan tanah liat yang halus. Setelah itu dicampur air diaduk sampai lengket sehingga menciptakan warna yang sesuai dengan tema lukisan.

“Tanah liat yang digunakan untuk melukis harus lengket. Untuk itu sebelum digunakan kita saring sampai halus, kemudian dicampur air,” terang Zaenal.

Bram Iswanto dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi selaku ketua pantia kegiatan jejak warisan budaya dalam gerak, tutur, nada dan coretan mengaku sengaja mengundang Zaenal Beta agar bisa memberikan pembelajaran dan pengenalan kepada muda-mudi serta anak-anak di Bengkulu mengenai seni lukis.

“Kita ingin memberikan pelajaran jika melukis atau menggambar itu tidak hanya menggunakan pensil, kuas atau cat, tetapi tanah liapun bisa. Semoga dengan datangnya pak Zaenal Beta ini bisa mentransferkan ilmu untuk menyatukan seni,” terang Bram Iswanto.

Lukisan tanah liat karya Zaenal Beta itu jelas dikagumi banyak orang yang hadir dalam kegiatan tersebut. Rata-rata diantara mereka langsung mengabadikan lukisan tanah liat yang belum pernah mereka lihat. Bahkan beberapa pengunjung ada yang tidak tahu jika lukisan tersebut dari tanah liat. “Ada juga sebagian yang tidak tahu lukisan karya saya ini bukan dari tanah liat. Mereka mengira lukisan biasa,” pungkas Zaenal Beta.(***)