Akbid Tidak Akan Tutup

SekolahKOTA MANNA, Bengkulu Ekspress – Pernyataan Bupati Bengkulu Selatan (BS), H Dirwan Mahmud SH yang mengatakan Akademi Kebidanan (AKBID) Manna akan tutup tahun depan, sangat disesalkan pihak Akbid Manna. Pasalnya pernyataan tersebut dapat menurunkan minat para orang tua menyekolahkan anaknya ke Akbid Manna. “Akbid Manna baik-baik saja, sebab sampai saat ini kegiatan belajar mengajar di Akbid tetap berjalan normal, namun dengan pernyataan pak Bupati itu sangat kami sayangkan, sebab bisa membuat lulusan SMA sederajat di Bengkulu Selatan eggan melanjutkan pendidikan ke Akbid Manna,” sesal Wakil Direktur bidang Akademik, Firman Hayadi MKes, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (5/4/2017).

Menurut Firman, saat ini Akbid Manna sedang berbenah, bahkan dalam waktu dekat pihak Kopertis dan Dikti akan segera ke Bengkulu Selatan untuk melakukan akreditasi terhadap Akbid Manna untuk meningkatkan status dari terakreditasi C ke akreditasi B.

Bahkan sambungnya, meskipun Pemda Bengkulu Selatan tidak bisa menghibahkan bangunan gedung eks rumah Sakit Umum Manna yang mulai ditempati sejak 2003 lalu, dirinya tidak mempermasalahkannya.

Sebab selama Pemda Bengkulu Selatan masih peduli dengan Akbid, Pemda Bengkulu Selatan cukup meminjamkannya ke Yayasan Sekundang dengan sistem sewa yang besaran sewanya sesuai kemampuan AKBID. “Memang kami mengharapkan agar dihibahkan ke Akbid gedung yang kami pakai saat ini, jika tidak dengan sistem sewa juga tidak apa-apa,” ujarnya.

Dijelaskan Firman, Akbid Manna ini merupakan sekolah kesehatan kebanggaan warga BS. Sebab sejak berdiri tahun 2003 lalu, lulusan SMA yang masuk ke Akbid, tidak hanya dari Bengkulu Selatan, namun juga dari luar Bengkulu Selatan. Bahkan saat ini sudah meluluskan ratusan orang yang sudah bekerja sebagai PNS atau bidan pegawai tidak tetap (PPT) yang tersebar di Indonesia. “Sejak berdiri, kami sudah meluluskan tenaga kebidanan lebih dai 900 orang,” imbuh Firman.

Begitu juga dengan pernyataan Bupati BS, jika AKBID tidak mampu membiayai operasionalnya, hal itu juga dibantahnya. Menurut Firman dengan jumlah mahasiswa yang hanya 58 orang mulai dari tingkat 1 hingga tingkat 3, pihaknya masih mampu membayar gaji tenaga pendidik dan kegiatan belajar mengajar serta praktikum mahasiswa.

“Dengan 85 mahasiswa dan uang SPP yang mereka bayarkan Rp 3 juta per semester serta memiliki 23 tenaga pendidik, Akbid Manna bisa membiayai kebutuhan sendiri, meskipun tidak ada bantuan dari pihak luar,” terangnya.

Ketua Yayasan Sekundang, Drs H Zainal Abidin Merahli, juga menyayangkan pernyataan Bupati Bengkulu Selatan tersebut. Sebab, dengan pernyataan itu, akan menurunkan kepercayaan para orang tua menyekolahkan anaknya ke Akbid. Sebab, sambung mantan sekkab Bengkulu Selatan ini, meskipun ada rencana untuk mendirikan perguruan tinggi di Bengkulu Selatan, seharusnya Bupati Bengkulu Selatan tetap memperhatikan Akbid tanpa membuat pernyataan yang meresahkan itu.

“Saya hanya bingung apa yang mendasari Bupati membuat pernyataan demikian, kalaupun akan mendirikan universitas di Bengkulu Selatan, sekolah yang sudah lama sebaiknya dibina, sebab semakin banyak perguruan tinggi di Bengkulu Selatan, maka semakin banyak pilihan bagi lulusan SMA sederajat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ditambahkannya, adanya Subsidi dari pemda Bengkulu Selatan itu merupakan bukan setiap tahun. Subsidi yang diberikan Pemda ke Akbid dalam bentuk bantuan hibah juga tidak bisa diberikan setiap tahun. Sehingga dirinya memastikan Akbid Manna tetap bisa maju tanpa ada subsidi dari pemda Bengkulu Selatan. “Tahun lalu tidak ada hibah dari Pemda Bengkulu Selatan, tahun ini memang ada katanya sebesar Rp 600 juta, namun belum kami terima, kalau memang mau membantu Akbid kami sangat berterima kasih, kalaupun tidak ada hibah, Akbid tetap bisa berkembang,” imbuhnya.

Adapun Popy Novita Sari, salah satu mahasiswi Akbid tingkat 3 saat ditemui di Akbid Manna kemarin mengaku resah dengan adanya pemberitaan tersebut. Sebab, dirinya khawatir jika pernyataan Bupati tahun 2018 Akbid akan tutup, maka adik tingkatnya dipastikan tidak bisa lagi belajar di Akbid Manna.Mereka harus pindah ke sekolah lain.

“Kalau pernyataan Bupati itu benar, terus bagaimana nasib kami dan adik-adik tingkat kami,” katanya dengan nada cemas.

Namun demikian, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak Akbid Manna untuk mencari solusi agar pernyataan bupati tersebut tidak terjadi. Sebab sambungnya, Akbid ini sudah terbukti mampu meluluskan tenaga kebidanan yang handal. Bahkan lulusan Akbid sudah banyak yang bekerja sebagai PNS atau dilembaga kesehatan yang tidak hanya di Bengkulu Selatan namun sudah bekerja hingga ke luar Provinsi Bengkulu.

“Kami hanya berharap, Akbid ini tetap jalan dan tidak tutup,” harapnya.

Menanggapi keresahan mahasiswanya itu, Firman Hayadi mengatakan, para mahasiswanya tidak perlu resah. Sebab dirinya memastikan, selama masih ada mahasiswanya, Akbid Manna tidak akan tutup. Bahkan dirinya mengaku akan terus berupaya agar akbid terus berkembang dan mahasiswanya kembali banyak.

“Kepada mahasiswa Akbid dan Masyarakat umum saya harap tidak terpengaruh dengan pernyataan Pak Bupati, sebab selama ada mahasiswanya, Akbid tetap jalan. Kami bahkan akan terus membangun Akbid ini akan semakin maju,” terang Wadir bidang akademik ini.

Bupati Bengkulu Selatan, H Dirwan Mahmud SH memperkirakan tahun depan Akbid Manna akan tutup. Sebab, Pemda Bengkulu Selatan tidak bisa menghibahkan gedung eks rumah sakit Manna yang saat ini digunakan Akbid untuk kegiatan belajar mengajar mereka. Akibatnya akbid Manna tidak bisa berkembang. Karena syarat utama untuk bisa mendapatkan bantuan dari luar, harus memiliki gedung sendiri. Sedangkan gedung yang mereka pakai, merupakan aset Pemda Bengkulu Selatan. Selain itu lantaran Yayasan Sekundang Setungguan tidak mampu membayar gaji para tenaga dosen dan karyawan Akbid. Mereka juga tidak mampu membayar biaya operasional. Sebab uang yang mereka kumpulkan dari hanya 90 mahasiswa Akbid mulai dari angkatan 1 hingga angkatan 3 , tidak cukup menutupi semua biaya tersebut. (369)