Air Sudah Setinggi Leher, Anak Terpaksa Diangkat di Atas Kepala

Cerita Sarni (42), Korban Banjir di Perumahan Wonder Residence City

img_20161109_143443

Kejadian banjir yang terjadi di Perumahan Wonder Residence City memiliki kisah tersendiri bagi warga sekitar. Salah satunya adalah Sarni yang memiliki anak bayi umur 2 bulan. Ia harus berjuang untuk menyelamatkan bayinya itu saat banjir mulai merendam pada tengah malam.

CARMINANDA, Bengkulu

Selasa (8/11) dini hari mungkin menjadi hari yang tidak bisa dilupakan oleh Sarni (42), sebab baru genap seminggu ia bersama suami dan anaknya pindah ke rumah barunya di perumahan Wonder Resedence City RT 40 RW 06 Keluruhan Betungan, Kecamatan Selebar Kota Bengkulu ini malah terkena banjir. Pukul 23:00 WIB air setinggi 170 cm merendam rumah Sarni dan 30 rumah lainnya. Saat itu, Sarni yang baru 2 bulan melahirkan anak pertamanya itu tengah tertidur pulas diiringi dengan hujan deras yang mengguyur Kota Bengkulu sejak maghrib.

“Banjir, banjir, banjir,” teriak warga sebelah rumah Sarni sontak membuat ia dan suami terbangun dan terkejut ketika melihat rumah mereka telah digenangi air setinggi mata kaki. Tanpa berpikir panjang Ponijo (43) suami Sarni langsung berdiri membuka pintu rumah dan melihat keluar, ternyata semua warga perumahan Wonder Residence sudah keluar rumah.

Panik melihat situasi tersebut, ia langsung kembali lagi kedalam rumah dan bermaksud untuk mengemas barang-barang miliknya. Saat kembali kekamarnya istrinya, Sarni, rupanya tengah menimang buah hatinya yang baru berumur 2 bulan yang sedang menangis.

Situasi tersebut membuat lelaki pekerja bangunan ini semakin panik dan kurang dari sepuluh menit air tiba-tiba naik hingga sebatas leher orang dewasa. “Tidak sempat mengemas barang-barang, pas mau keluar air sudah seleher,” kenang Ponijo yang bekerja sebagai buruh bangunan tersebut.

Jerit tangis Insani terdengar padu dengan derasnya suara hujan. Panik melihat kondisi air yang terus naik, tak pelak Sarni pun menangis terisak-isak sambil berjalan dengan mengangkat tinggi sang buah hati. Belum lagi sempat sampai pada pintu depan rumahnya, listrik di seluruh komplek itu pun mati sehingga membuat gelap seluruh ruangan.

“Malam tadi itu lampunya mati, mana airnya udah tinggi, ini si Insani nangis terus,” kenang Sarni sambil matanya berkaca-kaca. Warga yang tahu bahwa Sarni memiliki anak bayi itu pun langsung bergegas membantu mengevakuasi Insani. Dengan tetap mengangkat insani di atas kepalanya Sarni pun perlahan membawa Insani keluar rumah. Dengan kondisi gelap tersebut memaksa ia dan suaminya dan dibantu warga sekitar harus perlahan-lahan berjalan karena takut terbentur.

“Insani ditutup pakek bedung, tapi dia nggak berenti nangis,” ungakap Sarni. Bersama warga sekitar komplek itu pun menuntun Sarni dan suaminya ke rumah di bagian komplek yang sedikit tinggi. Setelah sekitar setengah jam akhirnya Sarni, Insani, dan suaminya berhasil selamat keluar dari lokasi banjir tersebut. Dengan terus menangis Sarni pun langsung membuka kain bedung anaknya tersebut yang sudah basah, terlihat sekali kalau Insani kedinginan, ia terus saja menangis namun sekali-kali terbatuk-batuk. Kemudian Insani kembali di bedung dengan kain kering.

Hingga pukul 3 pagi hujan juga belum berhenti, listrik pun tak kunjung menyala. Sarni bersama warga lainnya pun berkumpul di sebuah toko di depan kompek perumahan tersebut yang tidak terkena banjir. Karena khawatir dengan kondisi kesehatan Insani bayi yang baru berumur 2 bulan tersebut, suaminya Ponijo memutuskan untuk mengajak istri dan anaknya itu mengungsi ke tempat saudaranya yang ada dilingkar barat. 30 menit berselang, keluarga itupun dijemput oleh saudaranya menuju rumah saudaranya itu.

Keesokkan harinya, Rabu (9/11), Insani yang semakin batuk itu pun dibawa oleh orang tuanya ke puskesma lingkar barat untuk memeriksa kondisi Insani.

“Kata perawatnya Insaninya tidak apa-apa, hanya perlu di beri susu yang banyak saja,” ujar Sarni menirukan ucapan perawat tersebut.

Siangnya Sarni beserta suaminya kembali lagi ke rumahnya di Wonder Residence City. Sayangnya banjir belum juga surut, baru menurun sebatas pinggang orang dewasa. Sampai sejauh itu semua barang-barang berharga miliknya seperti mobil, motor, tv, kulkas, mesin cuci, dan surat-surat berharga masih terendam banjir dirumahnya. “Ntah lah tidak tahu, bahkan surat nikahnya saja mungkin sudah hancur,” keluh Sarni. Ia berharap semoga kejadian ini tidak terulang kembali.(cw1)