Air Panas Grojokan Sewu Bikin Tubuh Tambah Rilek

Destinasi Wisata Baru Rejang Lebong

Ari, para pengunjung yang sedang menikmati mandi dikawasan air panas Gerojokan Sewu yang terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang (1)

Sumber Air Panas Gerojokan Sewu yang terletak di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Rejang Lebong maupun Provinsi Bengkulu. Bagaimana kondisi objek wisata berada di lereng gunung api aktif yang familiar dengan nama bukit kaba ini, berikut laporannya;

Ari Apriko, Selupu Rejang

MENUJU objek wisata Gerojokan Sewu tidaklah terlalu sulit. Lokasinya hanya berjarak sekitar 1 KM dari Pos Pemantauan Gunung Kaba. Atau bila ditempuh dari Pusat Kota Curup ibu kota Kabupaten Rejang Lebong hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat kearah Lubuklinggau. Saat tiba di Kecamatan Selupu Rejang atau di simpang empat bukit kaba, pengunjung mengambil jalur untuk menuju bukit kaba.
Setelah melewati Pos Pengamatan Gunung Kaba, atau berjarak sekitar 700 meter pengunjung akan ditemukan dengan persimpangan menuju Sumber Air Panas Gerojokan Sewu. Dari persimpangan pengunjung harus masuk sejauh 300 meter melewati area perkebunan kopi dan sayuran warga. Dan dari persimpangan ini minimnya fasilitas sudah mulai pengunjung rasakan. Jalannya masih berbentuk tanah dan hanya bisa dilalui oleh kandaraan roda dua saja, untuk mempermudah pengguna jalan, terutama saat musim hujan, disejumlah titik jalan khususnya tanjakan dan turunan warga menganyam bilahan bambu, untuk dijadikan jalan sehingga bisa membatu pengunjung terutama saat musim hujan sehingga jalan tidak licin.
Sesampainya diarea wisata tersebut, pengelola menyiapkan parkir untuk kendaraan roda doa, biaya masukknya pun terbilang murah, hanya Rp 2 ribu per orang dan Rp 3 ribu untuk parkir kendaraan. Dari lokasi parkir ini, pengunjung sudah bisa melihat sejumlah pancuran (gerojokan) yang dibuat pengelola untuk mengaliri air panas yang berasal dari perut bumi. Hanya berjalan sekitar 50 meter, pengunjung langsung bisa menikmati air panas alami yang mengalir dipancuranbaik terbuat dari pipa maupun bambu. Setidaknya sudah ada enam titik pancuran yang sudah dibuat pengelolal, pancuran dengan air panas terbesar ada dibagian dalam area.
Fasilitas yang ada di komplek tersebut hanyalah beberapa tempat duduk serta dua bilik tempat pengunjung mengganti pakaian. Bilik yang dibuat tersebut terbilang sederhana hanya terbuat dari plastik yang biasa digunakan petani untuk menutup bedengan tanah untuk ditanami sayuran.
Meskipun masih minim fasilitas, namun pengunjung masih banyak yang datang, bahkan berulang kali, salah satunya dilakukan Erna Wati (45) Warga Kelurahan Talang Rimbo Baru Kecamatan Curup Tengah. “Saya sendiri sudah tiga kali datang kesini untuk mandi,” aku Erna.
Erna mengaku, dengan mandi di air panas ini, tubuhnya bisa menjadi rilek,hanya saja ia masih mengeluhkan minimnya fasilitas, terutama masalah jalanyang belum bisa dilewati kendaraan roda empat, serta fasilitas penunjang lainnya seperti kamar bilas maupun tempat mandi sendiri. “Tidak perlu dibangun kolam dulu, minimal ada tempat duduknya, sehingga pengunjung yang datang, bisa mandi sambil duduk disemen atau lainnya,” harap Erna.
Terkait dengan pengelolaan objek wisata tersebut, salah satu pengelola, Yogi Agustian saat ditemui Bengkulu Ekspress di lokasi mengaku bila pihaknya sudah mengajukan proposal pembangunan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rejang Lebong.
Hanya, saja pembangunan belum bisa dilakukan mengingat tidak adanya anggaran pengembangan objek wisata di Kabupaten Rejang Lebong pada tahun 2015 ini.
“Proposal sudah kita masukkan, bahkan tim dari dinas sudah pernah turun, namun belum bisa direalisasikan karena tidak adanya anggaran,” jelas Yogi.
Terkait dengan keberadaan sumber air panas sendiri, Yogi menjelaskan, keberadaan air panas ini memang sudah lama diketahui warga hanya saja, pengembangannya baru dilakukan pada buln September 2014 lalu. Terkait penamaannya sendiri awalnya warga sekitar ingin memberi nama Suban Sebunyi yang artinya Air Panas Dipedalaman, namun akhirnya berubah nama menjadi Gerojokan Sewu atau Pancuran yang banyak, karena air pans yang keluar dialiri dengan pancuran yang jumlahnya cukup banyak.
Kedepannya, Yogi bersama pengelola lainnya berharap adanya sentuhan pembangunan terutama infastruktur jalan menuju lokasi wisata tersebut. Dengan semakin majunya wisata di kawasan tersebut diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat dikawasan tersebut.(**)