50 Desa Disurvey Penyakit Frambusia

Jefryy/Bengkulu Ekspress - Peserta survey Serologi prambusia di kabupaten Seluma mulai dilakukan terhadap 50 desa.
Jefryy/Bengkulu Ekspress – Peserta survey Serologi prambusia di kabupaten Seluma mulai dilakukan terhadap 50 desa.

Apr 13, 2017 @ 17:00

TAIS, Bengkulu Ekspress – Pemerintah Kabupaten Seluma melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma kembali mensurvei penyakit Frambusia di sebanyak 50 desa di kabupaten Seluma. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan penyakit kulit  menular tersebut. Penyakit itu pernah ditemukan di Seluma pada 2010.

“Kita akan melakukan survey mulai Kamis (13/4/2017) di 50 desa di Kabupaten Seluma yang terindikasi adanya penyakit kulit Frambusia ini,” tegas kepala Dinas kesehatan Kabupaten Seluma Khaidir Muchtar Ssos melalui Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Ahmad Tavif Sip kepada Bengkulu Ekspress kemarin (12/4/2017).

Disampaikan, Prambusia atau patek merupakan jenis penyakit kulit yang mudah menular. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintil-bintil kecil pada kulit yang letaknya berdekatan. Setelah matang, bintil-bintil tersebut merekah dan mengeluarkan nanah. Jika mengering, menimbulkan kerak dan membekas dan disertai dengan sakit kepala dan nyeri pada sendi. Kasus seperti ini sudah ditemukan tahun 2010 lalu. Pada 2015 lalu dilakukan pengobatan masal terhadap penderita Frambusia tersebut. Kemudian padan 2017 ini kembali dilakukan survey untuk mendeteksi penyakit ini.

“Perkembangan setelah pengobatan masal harus dilakukan dengan pengambilan sampel darah pada warga di 50 desa tersebut,”ujarnya.

Desa yang difokuskan dalam pengamblan sampel penyakit itu, Desa Tanah Abang dan Desa Penago Dua. Sedangkan desa tetangga dan desa lainnya dari penemuan kasus ini tetap disurvei. Sasaran survey ini juga terhadap anak-anak dan orang dewasa.

Dijelaskan lagi, penyakit Prambusia ini hadir akibat perilaku hidup tidak bersih. Termasuk kebersihan lingkungan dan keseharian warga itu sendiri. Sehingga seluruh pihak dituntut hidup bersih dalam kesehariannya.

”Penyakit patek dibagi menjadi tiga stadium perkembangan, setiap stadium mempunyai gejala berbeda hingga tiga tingkatan. Dimulai dengan adanya tonjolan padat di permukaan kulit yang selanjutnya menjadi banyak.” Jelasnya.

Disampaikan lagi, penyakit ini biasanya mengeluarkan serum berwarna kuning cokelat yang melekat pada tonjolan tersebut. Serum ini lama kelamaan mengering di permukaan kulit, tonjolan yang ditutupi oleh cairan yang sudah mongering ini disebut induk patek. Kelenjar getah bening membesar, penderita panas dingin, dan sakit keras. Stadium 1 ini menyerang daerah tungkai bawah. Hal itu timbul kembali setelah beberapa waktu di lokasi lainnya. (333)