5 Sekolah Bengkulu Sabet Adiwiyata Nasional

4
JAKARTA, BE – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan memberikan gelar adiwiyata kepada 498 sekolah yang ada di Indonesia sebagai sekolah adiwiyata nasional. 5 diantaranya berasal dari Provinsi Bengkulu. Kelima sekolah yang berhasil menyabet gelar ini antara lain SDN 1 Talang Empat (Bengkulu Tengah), SMPN 5 Mukomuko, SMPN 1 Curup, dan SMAN 5 Kota Bengkulu.
“Penghargaan ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada pemerintah daerah dan kepala sekolah yang telah mewujudkan sekolah binaannya menjadi salah satu sekolah terbaik di negeri ini,” kata  MenLHK Siti Nurbaya, dalam acara ‘Sarasehan Adiwiyata Nasional 2014’, di Gedung Manggala Wanabakti Kemenhut, Jakarta, Senin (22/12).
Politisi Nasdem ini melanjutkan, pendidikan lingkungan memang merupakan salah satu strategi utama dalam mengatasi berbagai kerusakan lingkungan hidup yang saat ini marak terjadi. Pemahaman tentang lingkungan juga perlu dibangun agar masyarakat dapat memahami potensi, tata cara pengelolaan serta antisipasi dampak lingkungan.
“Dengan pemahaman yang cukup maka akan mendorong partisipasi masyarakat peduli lingkungan dan ramah terhadap lingkungan. Perubahan perilaku inilah yang menjadi tujuan utama pengembangan pendidikan lingkungan hidup ini,” tambahnya.
Sampai saat ini, sudah ada 6.400 sekolah yang mengikuti program tahunan ini, dan 1.161 diantaranya telah mencapai kriteria adiwiyata nasional, 290 sekolah mencapai kriteria adiwiyata mandiri, dan 2 sekolah mendapatkan Eco School Award di tingkat ASEAN.
“Pada tahun ini, total ada 760 sekolah yang diusulkan 33 provinsi untuk mendapatkan predikat Adiwiyata. Setelah dilakukan verifikasi dan evaluasi, ditetapkanlah 498 sekolah dari 30 provinsi,” paparnya.
Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan berharap sekolah-sekolah yang berhasil mendapatkan adiwiyata nasional ini dapat menularkan prestasinya ke sekolah lainnya. Pasalnya, Rektor Universitas Paramadina ini menilai sekolah yang telah berhasil menyabet gelar adiwiyata nasional ini merupakan pioneer atau rombongan awal yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.
“Total sekolah di Indonesia ada ratudan ribu, jadi yang 498 ini adalah pioneer dan harus bisa menjadi contoh,” ujarnya.
Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar ini mengaku saat ini banyak kesalahan dalam pendidikan di sekolah. Misalnya, jamaknya guru yang menganggap siswa hanya anak kecil. Padahal, siswa harus dianggap sebagai generasi masa depan. Siswa juga lebih sering diajarkan membuang sampah, padahal menurut Anies yang menjadi masalah bukan membuang tapi mengelola.
“Mereka (siswa) harus diajarkan mengelola. Kalau siswa sudah sadar, maka mereka akan menularkan pada keluarga,” pungkasnya.
Tak jauh berbeda Kepala BLH Provinsi Bengkulu Iskandar ZO menerangkan, sekolah yang berhasil menyabet adiwiyata nasional ini adalah sekolah yang berhasil membangun wawasan lingkungan. Indakatornya, secara fisik bisa dilihat dari teduhnya sekolah, tertata rapi dengan rapi, dan memiliki program yang dikembang kepala sekolah secara terjadwal.
“Termasuk kantin yang berwawasan kesehatan, seperti bebas dari penyedap rasa,” imbuhnya.
Dikatakan Iskandar, program ini dilakukan secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, hingga tingkat nasional. Dari BLH Provinsi sendiri berperan memberikan evaluasi dan pengawasan terhadap penilaian kabupaten.
“Kepada sekolah-sekolah, kami juga melakukan sosialisasi dan mengadakan program bank sampah,” sambungnya.
Meski terkesan stagnan, karena sejak tahun lalu Bengkulu hanya berhasil menghantarkan 5 sekolah. Tapi, ia mengaku hal itu terjadi karena penilaian yang dilakukan benar-benar objektif. Selain itu, pihaknya juga tidak ingin memaksakan secara kuantitas, tapi kualitas. Bukan berarti juga yang sudah menang pada tahun lalu dan saat ini tidak mendapatkan kembali gelar mengalami penurunan, menurutnya, sekolah yang telah berhasil akan didorong untuk meraih predikat adiwiyata mandiri.
“Kita memang tidak ada target untuk berapa banyak yang memperoleh,” ungkapnya.
Berbeda dengan Iskandar, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu Atisar Sulaiman malah berharap jumlah penerima gelar ini akan terus bertambah pada tahun-tahun mendatang. Sebab itu, ia berharap agar semua sekolah yang telah berhasil itu bisa menularkan prestasinya ke sekolah-sekolah lainnya.
“Berkenaan dengan lingkungan ini sangat penting, karena ini bisa membuat anak betah untuk belajar dan bermain di sekolah. Kita akan terus melakukan sosialisasi dan bekerjasama dengan dinas terkait untuk meningkatkan wawasan lingkungan ini,” pungkasnya.

Bangga
Di bagian lain Gubernur Bengkulu H Junaidi Hamsyah mengaku bangga atas pencapaian tersebut. Ia pun menyampaikan apresiasi terhadap semua pihak yang telah mendukung sehingga Bengkulu ikut mendapatkan penghargaan tersebut.
“Ini merupakan program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penilaiannya dilakukan satu tahun satu kali,” kata Gubernur Junaidi melalui pesan singkatnya, kemarin.
Adapun kriteria penilaian yang dilakukan oleh pihak kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementerian Pendidikan, meliputi sekolah yang berwawasan lingkungan, sekolah yang mampu ciptakan hidup sehat dan bersih mulai dari tanaman pohon dan memiliki program unggulan sekolah yang tidak dimiliki sekolah lain, seperti ada tempat cuci tangan, ada penugasan guru untuk membersihkan sekolah dengan sukarela, WC bersih, kantin yang bebas MSG, dan ada bank sampah sekolah. Selain itu ada manajemen pengolahan sampah di sekolah tersebut.
“Selain Provinsi Bengkulu, penghargaan yang sama juga diterima oleh 29 provinsi lainnya,” ucapnya.
Menurut Gubernur, penghargaan itu bukan tujuan utama, melainkan tapi sebagai motivasi bagi sekolah yang belum mendapatkan atau belum melaksanakan program sekolah adiwiyata tersebut.
“Bagi sekolah yang belum menerapkan program Adiwiyata, kita berharap juga dapat menciptakan sekolah yang sehat, asri dan nyaman,” tandasnya.(400/609)