329 Ribu Warga Bengkulu Masih Miskin

BENGKULU, BE – Angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu masih cukup tinggi. Buktinya, hingga akhir 2014 lalu jumlah masyarakat miskin tembus 329.166 orang atau 17,09 persen dari jumlah penduduk Provinsi Bengkulu 1.926.076 jiwa.

Meski masih sangat tinggi, angka kemiskinanan tersebut sudah menurun sebesar 1,81 persen atau atau 34.861 orang dibandingkan angka kemiskinan tahun 2013 yang mencapai 18,34 persen atau 35.324 orang.

“Di tahun 2014 lalu angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu turun menjadi 17,09 persen. Angka tersebut masih tinggi dibandingkan rata-rata kemiskinan secara nasional sebesar 10,96 persen,” kata Gubernur Bengkulu, H Junaidi Hamsyah.

Selain itu, tingkat pengangguran di Bengkulu juga mengalami penurunan dari 4,47 persen pada 2013 turun menjadi 3,47 persen pada 2014 atau 66.834 orang. Angka tersebut lebih rendah dari tingkat pengangguran secara nasional yang berasa diangka 5,94 persen.

Untuk menekan angka pengangguran yang berdampak pada kemiskinan itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu akan memberikan perhatian lebih dengan cara terus mendorong terbukanya lapangan pekeraan baru, meningkat sumber daya manusia dan menyiapkan tenaga kerja yang handal dan profesional.

“Angka kemiskinan di Bengkulu ini menunjukkan tingkat pengangguran yang paling rendah ditingkat nasional, tapi kita tetap memberikan perhatian ektra terutama terkait dengan pembukaan lapangan kerja serta meningkatkan kualitas dan kompetensi tenaga kerja,” ungkapnya.

Junaidi optimis bahwa angka kemiskinan tersebut bisa diturunkan, seiring dengan pembangunan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bengkulu, seperti penyiapan infrastruktur dasar yang memadai dan besarnya potensi investor asing untuk membuka lapangan kerja di Bumi Raflesia ini.

Selain itu, tenaga kerja asal Bengkulu juga diyakini bisa berkompetesi dengan kerja dari daerah lainnya, karena di Bengkulu sendiri sudah terdapat sejumlah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang siap mencetak generasi muda yang berkualitas dan berintelektual tinggi.

Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Bengkulu, Jonaidi SP memperkirakan jumlah pengangguran dan kemiskinan di Bengkulu beberapa tahun kedepan akan terus meningkat. Itu dikarenakan kebijakan pemerintah pusat yang sudah menerapkan sistem pereokonomian liberal, seperti dicabutnya subsidi BBM, dinaikkan harga gas elpiji, listrik yang diikuti melambungnya sejumlah bahan pokok.

“Kalau harga-harga murah dan lapangan kerja dibuka, kemungkinan besar angka kemiskinan dan pengangguran akan berkurang. Jika kondisinya seperti saat ini, semua harga naik, dipastikan angka kemiskinan akan semakin bertambah. Jika tidak percaya, kalau tidak percaya mari kita sama-sama buktikan 2 atau 3 tahun kedepan,” ungkap Jonaidi.

Menurutnya, semakin meningkatnya angka kemiskinan tersebut karena akhir tahun pasar bebas Asean sudah masuk ke Indonesia, sehingga home industri yang selama ini digeluti masyarakat kemungkinan besar akan kalah bersaing dengan produk luar negeri. Kondisi tersebut juga diperparah dengan minimnya kompetensi dan skill yang dimiliki masyarakat Bengkulu.

“Semestinya pemerintah daerah harus mencarikan alternatif lain agar perekonomian masyarakat tidak terpuruk. Jika dibiarkan saja berjalan sendiri-sendiri, dapat dipastikan bahwa kita akan kalah bersaing dengan orang luar,” imbuhnya.(400)