150 Hektar Sawah Terancam Gagal Tanam

Doni/Bengkulu Ekspress CEK: Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kepahiang saat mengecek lokasi irigasi Sungai Durin I yang ambruk pekan lalu.
Doni/Bengkulu Ekspress CEK: Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kepahiang saat mengecek lokasi irigasi Sungai Durin I yang ambruk pekan lalu.

TEBAT KARAI, Bengkulu Ekspress – Memasuki musim tanam kedua bulan Agustus ini, sebanyak 150 hektar lahan persawahan di Desa Taba Santing Kecamatan Tebat Karai Kepahiang terancam gagal tanam. Pasalnya, aliran irigasi Sungai Pinggir Kuning yang menjadi sumber utama pengairan sawah ambruk. Sehingga air irigasi tidak dapat mengalirkan air ke lahan persawahan milik masyarakat.

Sekretaris Kelompok Petani Pemakai Air (KP2A) Taba Santing, Iwan Zamzam Kurniawan mengatakan, kerusakan irigasi berjarak sekitar 300 meter dari jalan raya tersebut, terdapat sekitar 4 meter yang mengakibatkan air tidak dapat dialirkan secara total.

“Padahal memasuki bulan Agustus ini merupakan musim tanam, kalau tidak ada airnya maka akan gagal tanam,” terangnya, Senin (31/7).

Menurutnya, kerusakan terjadi sejak Minggu (30/7) kerusakan yang nampak 4 meter, ancaman ambruk 15 meter. Irigasi Sungai Pinggir Kuning rentan mengalami kerusakan karena bangunan sudah sangat tua. Sebab dibangun di zaman penjajahan dahulu dan belum dilakukan perbaikan secara total. “Kita masyarakat mengharapkan adanya perbaikan, karena sekarang petani sudah mau nanam padi,” tutur Iwan.

Ia mengatakan, bila dilahan seluas 150 hektar, terdapat 200 kepala keluarga (KK) penggarap lahan. Sehingga masyarakat tersebut sangat bergantung dengan area persawahan untuk mencari nafkah dalam menghidupi keluarganya.

Kerusakan parah terjadi dialiran irigasi Sungai Durian 1 Desa Kelobak Kecamatan Kepahiang. Badan irigasi ambruk sepanjang 10 meter hingga menghentikan suplai air untuk kebutuhan masyarakat sehari ditiga desa. “Selain desa kita ada juga Pagar Gunung dan Pelangkian. Karena didesa masyarakat mengadalkan aliran irigasi untuk mandi dan mencuci serta kebutuhan lainnya,” ungkap Kades Kelobak,. Mansur (40).

Menurut Mansur, kerusakan irigasi sudah berlangsung sepekan, mengakibatkan 150 hektar lahan persawahan di Desa Kelobak 82 hektar, Pagar Gunung 20 hektar dan 48 hektar di Desa Pelangkian mengalami kekeringan. Belum adanya perbaikan dari pemerintah daerah membuat masyarakat tiga desa melakukan inisiatif perbaikan sementara. Dengan memasang tanggul karaung berisi tanah dan pasar. Supaya air dapat mengalir sementara waktu. “Harapan kita segera diperbaiki secara permanen, sebab kalau hanya tanggul ini saja bertahannya tidak akan lama,” sebutnya.
Sementara Anggota DPRD Komisi III yang mendapatkan informasi kerusakan irigasi oleh masyarakat langsung melakukan pengecekan kelokasi kejadian. Agus Sandrillah, H Supianto, Eko Guntoro, Widia Hartini dan Meri Hartati mendatangi lokasi, saat warga usai bergotong royong perbaiki tanggul. “Kita desak BPBD Kepahiang agar segera melakukan perbaikan tanggap darurat, kemudian harus dapat mengajukan anggaran untuk perbangunan secara permanen,” terang Widia.

Dihadapan masyarakat dan Kades Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepahiang, Burlian mengatakan, sudah mengajukan anggaran dana untuk pembangunan tanggap darurat kerusakan irigasi sungai durian. Namun berkasnya masih di meja Bupati Kepahiang Dr Ir Hidayatullah Sjahid MM.

“Kalau asisten sudah paraf, tinggal tunggu tanda tangan bupati,” kata Burlian.

Ia menyatakan, bila setelah mendapatkan laporan masyarakat akan kerusakan irigasi langsung mengambil langkah tanggap darurat dengan mengajukan pencairan anggaran. Sehingga bangunan dapat dilakukan secara darurat agar air dapat dilaksanakan, namun karena belum selesaikan proses administrasi maka anggaran belum dapat dibelanjakan.”Kalau belum ada dana, saya bisa utang ke toko bangunan. Tetapi sekarang saya tidak berani utang material ketoko. Sebab anggaran darurat bencana itu tidak ada di BPBD adanya di BKD. Kalau tidak ada jelas pos anggaran saya tidak berani untuk bergerak lebih dulu,” ucap Burlian. (320)